Suara Purwokerto

Lingkar Purwokerto

Kebenaran, Representasi, Dan Otoritas Agama Di Media: Kajian Framing Dan Hoaks Dalam Jurnalisme Islam

Senin, 8 Juni 2026 09.52 WIB

Gian Widayoko Mahasiswa UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto

Gian Widayoko Mahasiswa UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto

Suara Purwokerto - Kebenaran dalam pemberitaan keagamaan tidak selalu merupakan gambaran langsung dari realitas yang terjadi. Informasi yang diterima masyarakat telah melalui proses seleksi, interpretasi, dan penyusunan sehingga membentuk konstruksi tertentu mengenai suatu peristiwa. Dalam isu keagamaan, proses tersebut menjadi lebih sensitif karena berkaitan dengan keyakinan, identitas, dan nilai-nilai yang dianut masyarakat. Media memiliki kekuatan untuk menentukan fakta yang dianggap penting, cara penyampaiannya, serta tokoh yang diberi kesempatan memberikan penjelasan. Karena itu, persepsi masyarakat terhadap suatu persoalan agama sering kali dipengaruhi oleh bagaimana media mengonstruksi informasi tersebut.

Pembentukan makna dalam pemberitaan banyak dipengaruhi oleh framing. Framing merupakan cara menonjolkan aspek tertentu dari suatu peristiwa sehingga audiens diarahkan pada sudut pandang tertentu. Peristiwa yang sama dapat dipahami secara berbeda ketika disajikan dengan pilihan kata, fokus informasi, dan penekanan yang berbeda. Melalui framing, suatu isu dapat ditampilkan sebagai ancaman, konflik, penyimpangan, ataupun sebagai bentuk toleransi dan perdamaian. Framing tidak hanya memengaruhi cara masyarakat memahami suatu peristiwa, tetapi juga membentuk opini publik terhadap kelompok dan identitas keagamaan tertentu.

Selain framing, representasi agama berperan dalam membentuk pemahaman masyarakat mengenai kelompok, simbol, dan praktik keagamaan. Representasi tidak sekadar menggambarkan realitas, tetapi juga menghasilkan makna sosial tertentu. Ketika suatu kelompok ditampilkan secara tidak proporsional, masyarakat dapat membentuk stereotip dan prasangka yang sulit dihilangkan. Sebaliknya, representasi yang adil dan berimbang dapat membantu menciptakan pemahaman yang lebih luas terhadap keberagaman pandangan dan praktik keagamaan.

Hoaks keagamaan sering memanfaatkan framing dan representasi untuk memperoleh legitimasi di tengah masyarakat. Informasi yang sebenarnya tidak benar dapat dikemas menggunakan simbol agama, kutipan ayat Al-Qur’an, hadis, maupun pernyataan tokoh agama sehingga terlihat meyakinkan. Sebagian fakta dipilih dan ditonjolkan, sementara konteks yang sebenarnya justru dihilangkan. Teknik ini membuat informasi tampak sesuai dengan keyakinan audiens sehingga lebih mudah diterima tanpa proses verifikasi. Bahasa yang digunakan juga cenderung emosional, hiperbolik, dan provokatif sehingga mendorong masyarakat bereaksi secara cepat.

Visual memiliki peran penting dalam memperkuat framing hoaks. Foto, video, maupun ilustrasi tertentu dapat digunakan untuk menciptakan kesan yang lebih kuat terhadap suatu peristiwa, meskipun tidak selalu memiliki hubungan langsung dengan informasi yang disampaikan. Simbol keagamaan, gambar kerumunan massa, maupun visual yang menggambarkan konflik sering dimanfaatkan untuk memperkuat persepsi bahwa suatu peristiwa memiliki dampak besar dan mengancam kelompok tertentu.

Penyebaran hoaks semakin diperkuat oleh karakteristik media digital dan media sosial. Konten yang memicu emosi cenderung memperoleh lebih banyak interaksi sehingga lebih sering ditampilkan oleh algoritma platform digital. Akibatnya, informasi yang provokatif dapat menyebar lebih cepat dibandingkan informasi yang akurat. Dalam situasi seperti ini, masyarakat sering kali menerima informasi berdasarkan popularitas dan frekuensi kemunculannya, bukan berdasarkan tingkat kebenarannya.

Dalam perspektif Islam, penyebaran informasi tanpa verifikasi bertentangan dengan prinsip tabayyun. Setiap informasi perlu diperiksa terlebih dahulu sebelum diterima dan disebarkan kepada orang lain. Penyebaran berita bohong tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga dapat merusak hubungan sosial, memicu konflik, dan menimbulkan perpecahan di tengah masyarakat. Oleh karena itu, kehati-hatian dalam menerima dan menyebarkan informasi merupakan bagian penting dari tanggung jawab moral dan keagamaan.

Perkembangan media digital juga mengubah struktur otoritas keagamaan dalam masyarakat. Jika sebelumnya otoritas lebih banyak berada di tangan ulama, lembaga pendidikan agama, dan institusi keagamaan, kini berbagai platform digital memungkinkan siapa saja menyampaikan pandangan keagamaan kepada publik. Popularitas sering kali menjadi faktor yang lebih menentukan dibandingkan kedalaman keilmuan. Kondisi ini menyebabkan masyarakat menghadapi kesulitan dalam membedakan antara sumber yang benar-benar memiliki otoritas keilmuan dengan sumber yang hanya memperoleh perhatian karena viralitas.

Media memiliki peran besar dalam membentuk persepsi mengenai siapa yang dianggap memiliki otoritas keagamaan. Tokoh yang sering muncul di media lebih mudah memperoleh kepercayaan publik meskipun tidak selalu memiliki kapasitas keilmuan yang memadai. Di sisi lain, informasi keagamaan juga kerap dimanipulasi dengan mencatut nama tokoh agama, menggunakan kutipan palsu, atau menghilangkan konteks asli suatu pernyataan sehingga terlihat memiliki legitimasi yang kuat.

Karena itu, prinsip kejujuran, keadilan, tanggung jawab, dan verifikasi menjadi sangat penting dalam penyebaran informasi keagamaan. Penyampaian informasi tidak hanya harus memperhatikan akurasi fakta, tetapi juga dampak sosial yang dapat ditimbulkan. Informasi yang tidak disajikan secara hati-hati berpotensi memperkuat polarisasi, menciptakan konflik, serta merusak keharmonisan masyarakat. Sebaliknya, informasi yang disampaikan secara berimbang dan bertanggung jawab dapat membantu membangun pemahaman yang lebih baik serta memperkuat kohesi sosial.

Pada akhirnya, kualitas informasi keagamaan sangat dipengaruhi oleh cara informasi tersebut dikonstruksi, direpresentasikan, dan disebarluaskan. Pemahaman terhadap framing, representasi, serta pentingnya verifikasi menjadi langkah penting untuk menghadapi hoaks dan disinformasi di era digital. Kesadaran kritis masyarakat terhadap proses pembentukan informasi dapat membantu menjaga integritas pesan keagamaan sekaligus mendorong terciptanya ruang publik yang lebih sehat, adil, dan berlandaskan kebenaran.

Penulis: Gian Widayoko, Mahasiswa UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto

Penulis: Writer

Editor: Parsito Tommy

Berita Terkait

Suara Purwokerto adalah portal berita terpercaya yang menyajikan informasi terkini tentang berbagai topik penting di kawasan Purwokerto, Banyumas, Purbalingga, dan Cilacap. Dapatkan berita terbaru mengenai peristiwa lokal, ekonomi, politik, budaya, hiburan, dan wisata. Kami memberikan informasi yang relevan dan up-to-date setiap harinya, mulai dari berita nasional hingga cerita-cerita inspiratif yang hadir dari masyarakat sekitar.

Sebagai portal berita yang fokus pada perkembangan daerah, kami menghadirkan berita Purwokerto yang mencakup segala aspek kehidupan masyarakat. Mulai dari wisata yang mempesona di Jawa Tengah, kebijakan pemerintah yang berdampak langsung pada kehidupan warga, hingga berita-berita hiburan yang menghibur. Suara Purwokerto berkomitmen untuk memberikan informasi yang akurat dan terpercaya bagi pembaca di seluruh Indonesia.

Selain menyajikan berita-berita lokal, Suara Purwokerto juga menjadi tempat bagi kolom opini, artikel budaya, serta liputan mendalam tentang kehidupan sosial dan politik di Indonesia. Dengan berita hari ini yang selalu up-to-date, kami memastikan pembaca selalu mendapatkan informasi yang berguna dan bermanfaat untuk kehidupan sehari-hari mereka. Ikuti terus perkembangan terbaru dan jadilah bagian dari komunitas pembaca setia kami di Suara Purwokerto.

Logo Suara PurwokertoVersion: 1.29.3-sBJOSHwBqeIkxizHixtCA