Profil

Practical Parenting: Anak Kecil Tidak Pendendam

Selasa, 09 Agustus 2022 05:18 WIB

Practical Parenting: Anak Kecil Tidak Pendendam

Suara Purwokerto - Secara naluriah, anak (kecil) adalah pribadi yang pemaaf alias tidak pendendam. Coba perhatikan ketika suatu hari Anda menyaksikan dua orang anak bertengkar, maka hampir bisa dipastikan esok harinya mereka akan rukun kembali dan bermain bersama. Mereka bersikap seolah tak terjadi apa-apa di antara keduanya tempo hari.
Tapi jika Anda terlalu campur tangan, bisa-bisa Anda akan menyesal dan malu sendiri. Ketika anak Anda berselisih dengan teman sepermainan, misalnya, janganlah terlalu protektif dan menghardik teman anak Anda. Apalagi membawa dan menjauhkan anak Anda sambil mengomel yang tidak perlu.
Awasi dan cermati apa yang terjadi. Selama tidak ada hal yang membahayakan fisik, Anda tidak perlu mencemaskan mereka. Namun jika mereka sudah mengarah ke arah kekerasan (saling dorong, pukul, jambak, cubit) atau mengucap kata-kata yang tidak baik, Anda perlu segera turun tangan untuk melerai dengan cara yang bijak dan tenang.
Jangan tunjukkan roman Anda dengan mata melotot, pasang muka galak atau membentak. Tapi lerailah mereka secara halus dan dialogis: Ada apa ini? Anak-anak pintar tidak boleh berkelahi, ya?
Lalu, mintalah mereka saling bersalaman dan tak perlu menyelidik lebih jauh siapa yang memulai dahulu atau pemicu keributan tersebut. Ajaklah mereka singgah ke teras rumah Anda, berikan mereka minum atau makanan kecil.  
Jika dirasa waktu bermain mereka sudah cukup, nasihati mereka dengan logika yang sederhana: Mainnya cukup dulu, ya? Sekarang pulang dan mandi dulu, besok boleh main lagi. Dan seterusnya.
Cara melerai yang tidak bijak dan grusa-grusu, sama halnya Anda sedang mentransfer kepada anak-anak sifat tidak bijak dan sikap grusa-grusu. Artinya, dengan sikap tersebut di atas sama halnya Anda sedang memberi contoh cara menyelesaikan sebuah masalah. Dengan kata lain, Anda sedang mempertontonkan cara menyelesaikan (sebuah) masalah manakala di kemudian hari mereka menyaksikan hal serupa dan cara mengatasinya.
Cara melerai yang galak mungkin dipandang sebagai cara mendidik yang tegas, sehingga anak tidak akan mengulangi hal serupa. Harapannya, akan tertanam sikap patuh dan disiplin di dalam benak anak. Untuk hal yang satu ini, saya sangat tidak sependapat.
Betapapun, sikap disiplin dan tegas tidak bisa diukur dari penampilan fisik atau verbal semata. Kedisiplinan dan ketegasan semestinya adalah  perwujudan dari komitmen terhadap nilai-nilai kebenaran.
Kita semestinya lebih apresiatif terhadap anak-anak ketika mereka mau (sehingga terbiasa) membuang sampah pada tempatnya, cuci tangan sebelum makan, cuci kaki dan muka sebelum tidur, dan semisalnya. Dan, menurut saya, ketegasan akan muncul serta-merta ketika ia melihat anggota keluarga atau seseorang  yang membuang sampah sembarangan dengan kalimat atau teguran: Buang sampah kok sembarangan! Kalau buang sampah jangan sembarangan!
Kedisiplinan juga bisa bertumbuh dari lingkungan dan keluarga. Berikut adalah contoh yang saya alami.
Kebetulan kami tinggal di lingkungan yang tak jauh dari Mushala. Beberapa tahun terakhir saya dapat amanat jadi imam salat Subuh dan Maghrib. Belakangan, cucu saya acapkali minta ikut ke Mushala setelah mendengar kumandang adzan Maghrib.
Saya mengapresiasi permintaan cucu saya dengan mengajak cucu saya ke Mushala, dan terkadang memilih jadi makmum sehingga dapat mendampingi si kecil. Setidaknya ada dua alasan untuk bersikap demikian. Pertama, saya menghargai sosok yang sedang mulai bertumbuh sikap disiplin: mendengar kumandang adzan Maghrib dan mengajak ke Mushala. Kedua, saya tak mau menghalangi keinginan seseorang (anak kecil) yang memiliki panggilan hati untuk melakukan kebaikan.
Sebetulnya, mudah saja bagi saya untuk meninggalkan atau membiarkan cucu saya menangis di rumah. Namun, saya merasa terlalu egois untuk melakukan hal demikian. Tak tega rasanya saya lakukan itu terhadap sosok kecil yang secara naluriah memiliki sifat pemaaf dan tidak pendendam. Nah! 

Penulis: Akhmad Saefudin SS ME

Editor: Andy Ismer

Copyright ©2022 Suara Purwokerto. All Rights Reserved

Version: 1.21.2 | Build ID: qcGjvQDhJWW69CaCs8gPc