Profil

KH Abdul Kholik, Muassis Pesantren Al-Makmur Sokaraja Lor

Senin, 06 September 2021 20:27 WIB

Suara Purwokerto

Semasa mudanya, KHM Idris mondok di Pesantren Tremas Pacitan. Suatu waktu saat mengaji Kitab Ihya Ulumuddin dirinya mendapati sebuah keterangan (cerita tentang asal) yang sangat mengesankan baginya. "Sekang muntul bali muntul, sekang boled bali boled (dari ubi kembali ke ubi)," kata KH Maksudi Jawetan, seperti dituturkan kembali oleh Kiai Saifuddin Pliken.
 
Singkat kisah, KHM Idris terdorong untuk mempraktikkan penjelasan tentang asal tersebut. Maka, beliau pun mengirim dua orang anaknya (Chaeroji dan Abdul Kholik) ke pondok pesantren. Ketika itu, KHM Idris telah menjabat sebagai Penghulu Landraat. 

Pemberian uang bulanan oleh Kiai Idris kepada kedua anaknya cukup unik. Kepada anak pertama, Chaeroji, diberikan kiriman uang yang berasal dari gaji bulanan sebagai Penghulu Landraat. Adapun kepada anak kedua, Abdul Kholik, diberikan kiriman uang yang berasal dari hasil panen kelapa. Di kemudian hari, konon anak-anak KH Chaeroji rata-rata menjadi pegawai negeri; sementara anak-anak KH Abdul Kholik pada umumnya tidak berprofesi sebagai pegawai.

Untuk diketahui, KH Abdul Kholik adalah muassis (perintis) sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Al-Makmur yang beralamat di Desa Sokaraja Lor.

"Sewaktu saya sekolah di PGA NU Sokaraja, saya tinggal dan mengaji di Pesantren Al-Makmur. Waktu itu ada sekitar 20-an santri yang mukim di Al-Makmur," kata Kiai Saifuddin, alumni asal Pliken Kembaran.

Para santri biasanya mengaji sorogan kepada Kiai Kholik setiap bada Subuh. Kitab yang dikaji antara lain Safinah, Sulam Munajat, Sulam Taufik, dan Takrib.

Kiai Abdul Kholik dikenal keras dan sangat disiplin dalam mengajar santri-santrinya. Satu kali salah dalam membaca, misalnya, para santri diminta mengulangi dengan bacaan yang benar hingga tujuh kali. Jika ada santri yang coba-coba mengurangi hitungan bacaannya, tongkat rotan sang Kiai akan melayang diiringi suara gertakan: "Durung pitu, nembe limo; belum genap tujuh, baru lima kali!"

Pesantren Al-Makmur diperkirakan berdiri sekitar tahun 1920-an.

"Waktu saya kecil, bangunan pondok sudah ada. Anak-anak desa tidak ngaji di pondok,  melainkan di rumah Kiai Kholiq," kata H Sonhaji, salah satu santri almarhum. 

"Saya mengaji hafalan Surat Al-Fatihah kepada Kiai Kholiq di rumah beliau," kata H Sonhaji yang juga mantan Kepala Desa Sokaraja Lor. 

Dari pernikahannya dengan Nyai Rohmah, KH Abdul Kholik dikaruniai sepuluh orang anak: (1) Suliyah, (2) Mahmud, (3) Zaenab - ajal cilik, (4) Mahdi , (5) Mahsuri, (6) Maskunah, (7) Marfungah, (8) Ma'ruf - ajal cilik, (9) Masrifah, dan (10) Mafahir.

Sepeninggal KH Abdul Kholik (1970), pengasuh pesantren diteruskan oleh KHM Hidayat, salah satu putra menantu almarhum. (*)

Penulis: Saefudin

Editor: Andy Ismer

Berita Terkait

Copyright ©2021 Suara Purwokerto. All Rights Reserved

Version: 1.20.1 | Build ID: zxM9ndV3oXb1kDK9zvugk