Profil

Practical Parenting: Bimbinglah Anak Menebar Kasih Sayang

Jumat, 02 Juli 2021 08:23 WIB

Akhmad Saefudin SS ME

Suara Purwokerto
Ada sebuah nasihat bijak tersua dalam  'kitab kuning' literatur pesantren, yang kurang-lebih bunyinya, "Kasihilah yang ada di bumi, niscaya yang di langit akan mengasihi dirimu!" (Irhamuu man fil-ardli, yarhamukum man fis-samaa).

Menurut hemat penulis, berbuat kasih sayang tak harus dilakukan dengan hal-hal besar melainkan bisa pula berupa perbuatan yang kelihatan remeh-temeh dan tampak sepele.

Sekadar memberi makan kambing dengan memungut sebatang rumput atau selembar daun, misalnya, adalah bentuk kasih sayang kepada sesama makhluk ciptaan Tuhan. Demikian halnya memberi sesendok nasi kepada ayam atau kucing yang menyambangi (halaman) rumah kita.

Melakukan perawatan dan memberi pupuk atas tanaman yang kita tanam adalah bentuk nyata perlakuan kasih sayang. Orang-orang yang gemar (baca: hobi) berkebun, bercocok tanam, memiara hewan piaraan, beternak maupun memiara ikan-ikan baik di kolam maupun di akuarium -menurut hemat penulis, pada dasarnya itu adalah penyaluran rasa kasih sayang kepada makhluk ciptaan Tuhan. Dengan melakukan hal tersebut, kita merasa memperoleh ketenangan dan rasa nyaman atas hobi yang kita lakukan. Bahkan, demi hobi tersebut kadang orang tidak sayang untuk mengeluarkan biaya yang tidak sedikit.

Lalu bagaimana praksis pengajaran (baca: penanaman) sikap dan sifat kasih sayang kepada anak-anak. Membeli jajanan di warung atau di pasar adalah kebiasaan harian yang acap kali kita lakukan. 

Biasakan sebelum menikmati jajanan yang dibeli, mintalah anak kita mengambil sepotong demi sepotong jajanan tersebut, lalu mintalah dia untuk membagi-bagi kepada anggota keluarga yang ada. Masing-masing anggota keluarga yang telah menerima bagian, ucapkanlah kata 'terima kasih' kepadanya. 

Perlahan tapi pasti, dengan cara demikian akan tertanam dalam jiwa anak sifat kasih sayang dan sekaligus suka berderma. Berbagi apapun, bukanlah jumlah atau besarannya yang menjadi pokok perhatian perhatian, melainkan pembiasaan dan penanaman sikap terpuji semenjak dini. 

Atas model pembiasaan seperti itu, kini cucu sulungku (Icha) mintanya selalu dua (tak cukup satu) saat kuajak beli sesuatu di warung atau toko. "Belinya dua ya, Kung! Satunya untuk Dek Rara!" kata Icha.

Tentu sikap Icha tersebut membuatku bangga; sebuah hal yang wajib kusyukuri tentunya. Sangatlah mungkin Anda punya pengalaman serupa. Nah! (*)

Penulis: Akhmad Saefudin SS ME

Editor: Andy Ismer

Copyright ©2021 Suara Purwokerto. All Rights Reserved

Version: 1.20.1 | Build ID: zxM9ndV3oXb1kDK9zvugk