Profil

Practical Parenting: Ajarkan kepada Anak Segala Nama!

Sabtu, 26 Juni 2021 05:20 WIB

Akhmad Saefudin SS ME

Suara Purwokerto - Boleh dikata, penasaran dan rasa ingin tahu (baca: curiosity) adalah naluri setiap anak. Sewaktu melihat barang-barang atau hal-hal baru, anak biasanya akan bertanya kepada orang terdekat. Oleh sebab itu, orang tua mestilah bijak dalam menjawab apa yang ditanyakan dan ingin diketahui sang anak. Demikian halnya dengan yang penulis alami dan terus coba lakukan.
Manakala seorang ibu tengah beraktivitas di dapur -mengiris cabe atau bawang merah, memotong kentang dan lain-lain, biasanya serta-merta si anak (balitanya) akan ikut nimbrung. Sayang sekali, sebagian (besar) ibu malah menghalau sang buah hati untuk menjauh. Kata-kata yang keluar pun standar: "Ke dalam saja, nanti pedih kena bawang! Jangan ikut ibu di dapur, nanti kecipratan minyak!" Dan lain sebagainya. 
Melihat hal tidak kondusif demikian, aku memilih cara tersendiri untuk bercengkrama dengan si kecil. Satu waktu kusengaja menyambangi dapur, kuambil wadah bumbu dapur, lalu mengeluarkan isinya-satu persatu: bawang merah, bawang putih, lengkuas, kunyit, kencur, jahe, cabe. Di hadapan sang cucu, kutunjukkan barang-barang itu satu persatu, ada yang kukupas sedikit kulitnya, kusodorkan untuk dicium atau dikecapnya -seraya menyebut nama barang-barang tersebut satu demi satu. Tidak hanya sekali, esok dan lusa kuulangi lagi hal serupa. Kini, cucu sulungku Icha (3 th) sudah bisa mengenali bumbu dapur: bawang, cabe, kunyit, dan lain-lain. Tak berhenti di situ, di lain waktu kuambil kecap, garam dan gula untuk dicicipi sehingga ia kini bisa membedakan rasa ketiganya.
Dan, ketika suatu ketika si kecil didigit nyamuk, akupun kembali ke dapur. Kuambil bawang merah, kupotong jadi dua, lalu kuoleskan di tempat gigitan nyamuk. Ketika kulitnya lecet, karena jatuh misalnya, serta-merta kuambil sepotong kunyit, kugeprek hingga keluar cairan warna orange dan kuoleskan ke tempat yang lecet atau luka. Bawang merah dan kunyit, beserta khasiatnya, kini bukan barang asing baginya. Ketika satu saat kudapati dia memandangi anak lain sedang makan permen, aku segera ke dapur untuk mengambil gula merah dan memotongnya kecil-kecil sebagai pengganti permen.
Di lain kesempatan, sewaktu istriku ke warung, sesekali aku diam-diam membuntutinya sembari membobong Icha. Di sanalah aku berkesempatan mengenalkan kepada Icha nama-nama sayuran: kentang, tomat, terong, kacang panjang, jagung, kangkung, bayam, dan lain sebagainya. Jenis-jenis sayuran yang dibeli istriku, meskipun tak selalu ikut ke warung, di kemudian hari Icha mengenal namanya satu persatu.
Saat jamaah Maghrib, sesekali Icha kuajak serta ke mushola. Tak hanya ikut belajar shalat, usai jamaah kukenalkan orang-orang yang ikut jamaah. Icha pun kini mengenal dan paham, tak pangling saat berpapasan di jalan. 
Ada pula seorang penjual 'siomay' yang sering lewat depan rumah; suatu waktu kuhentikan, sengaja kutanya nama dan alamatnya (wawancara kecil) di hadapannya. Dan, kini Icha mampu berucap: "Beli siomay Pak Sukir yang rumahnya Dawuhan ya, Kung?"
Di lain hari, sewaktu aku potong rambut di tukang pangkas rambut, Icha kuajak serta. Sembari menunggu dan melihat rambutku dipotong, kusampaikan nama tukang potong (Mas Pringgo) dan arah rumahnya (kebetulan dulu kami bertetangga).
Benda-benda yang banyak dijumpai selama perjalanan, tidak segan-segan kusampaikan kepada Icha, seperti: jembatan, lapangan, masjid-mushala, patung gurame, patung Anoman, air mancur, sekolah, kampus, rumah sakit, dan lain-lain. Kini, meskipun belum pernah melihat sebelumnya, bisa menunjukkan bangunan Masjid dari ciri-ciri yang ada berupa kubah atau menara. 
Ada satu kisah yang kucatat dalam benak. Di sebelah jembatan sungai tak jauh dari kampung kami terdapat sebuah bengkel motor; kusampaikan kepada Icha, bahwa bengkel itu adalah milik Pak Ayun, ayah dari Mas Pringgo (tempat potong rambut tempo hari; kebetulan kami dulu bertetangga). Hari-hari berikut, setiap melintasi bengkel motor tersebut, Icha menunjuk sembari berujar: "Itu bengkel Pak Ayun!" (Padahal waktu itu belum pernah sekalipun dia bertemu dengannya. Maka, esok harinya aku perlukan menemui Pak Ayun untuk perkenalkan Icha secara langsung).
Masih banyak benda-benda di alam raya yang kita lihat setiap hari: langit, gunung, matahari, rembulan, bintang, burung-burung yang terbang bebas, dan sebagainya. Benda-benda yang lekat dengan kehidupan kita itu mestilah kita perhatikan dan jadikan sebagai bahan ajar bagi generasi muda-belia. Beberapa waktu silam, saat merasa kehabisan ide, serta-merta kuangkat kedua telapak tanganku: kusebut satu-persatu kelima jari yang ada : jempol, telunjuk, jari tengah, jari manis, dan kelingking. Ternyata, respon si kecil Icha sungguh di luar dugaan; ia tak saja menirukan menyebut kelima jari tangan kanan dan kirinya, tapi juga merambah kelima jari kaki kanan dan kirinya.
Mungkin pembaca bertanya-tanya, kenapa aku mesti repot-repot mengenalkan nama-nama itu kepada Icha?
Mari kita cermati bersama. Ternyata, ada satu ayat Al-Qur'an yang menyatakan: "Allah mengajarkan nama-nama kepada (Nabi) Adam". 
Dalam kaitan ini, penulis sampai pada kesimpulan bahwa mengenalkan nama-nama adalah satu hal urgen yang mesti dilakukan setiap orang tua kepada anaknya. Dengan kata lain, janganlah pelit-pelit menyampaikan ilmu yang Allah anugerahkan kepada kita, yaitu dengan cara mengenalkan nama-nama benda yang ada di sekitar kita. 
Wa ba'du. Atas secuil ilmu yang dianugerahkan Allah kepada kita, marilah kita tularkan kepada anak-cucu. Allah saja mengajarkan semua nama-nama kepada Nabi Adam. Bukankah demikian? 

Penulis: Akhmad Saefudin SS ME

Editor: Parsito Tommy

Copyright ©2021 Suara Purwokerto. All Rights Reserved

Version: 1.20.1 | Build ID: zxM9ndV3oXb1kDK9zvugk