Profil

Kepada Anak Kecil Sekalipun, Kita Tak Boleh Ingkar Janji

Rabu, 23 Juni 2021 01:38 WIB

Kepada Anak Kecil Sekalipun, Kita Tak Boleh Ingkar Janji

Suara Purwokerto - Hari itu Jumat sore, tepatnya pertengahan bulan Ramadhan lalu, salah satu warga tetangga RW meninggal dunia. Sore itu aku belum sempat takziyah, karena berita Lelayu kudengar setelah pemakaman dan waktu mendekati buka puasa.
Keesokan hari, kupersiapkan sepeda motor di halaman rumah. Cucu sulungku Icha (3 th) memergokiku sedang menuntun sepeda motor.
"Mau ke mana, Kung?" tanya Icha.
"Mau takziyah," jawabku.
"Kalau mau taziha, Icha ikut ya?" tanya Icha kemudian.
"Ya!" jawabku.
Sejumput kemudian, istriku keluar rumah. Tampaknya dia mendengarkan pembicaraanku dengan Icha dari dalam.
"Kalau mau ikut, Icha ganti baju dulu!" sahut istriku.
Icha pun masuk rumah sebelah, menemui ibunya untuk berganti pakaian. Kebetulan rumah kami bersebelahan. Beberapa menit kami menungu, Icha tak jua kunjung  muncul. 
"Yuk, tinggal saja. Kelamaan...," kata istriku.
Dan, akupun menuruti perintah istriku. Pagi itu, kubonceng dia menuju rumah Bu Hadi yang kemaren sore kesripahan untuk bertakziyah. Sepulang takziyah, aku tak bersua Icha hingga sore. Selepas Asar menjelang Maghrib, aku mengeluarkan sepeda motor. Istriku minta diantar membela takjil untuk keperluan buka puasa. Saat menuntun sepeda motor ke jalan, Icha memandangiku dari pintu rumah sebelah. Kebetulan rumah kami bersebelahan.
"Akung mau taziha, Icha ikut ya?" tanya Icha polos.
"Ya," jawabku serta-merta.
Pembicaraanku dengan Icha kali ini tak diketahui istriku. Sungguh di luar dugaanku: pagi tadi Icha kutinggal takziyah; kali ini, dia menagih janji untuk ikut takziyah. Maka, segera kubonceng Icha di belakangku. Sejumput kemudian istriku keluar rumah, lalu membonceng di belakang Icha. 
Aku stater sepeda motorku dan kulajukan secara perlahan. Kuarahkan sepeda motorku ke rumah Pak Hadi, yang tempo hari meninggal dunia. Istriku yang kubonceng di belakang tak tahu arah yang kutuju. Sebab warung takjil dan rumah almarhum Pak Hadi berlawanan arah. Selewat perempatan kecil, kuarahkan sepeda motorku menepi. Tak jauh dari mulut gang terpampang bendera putih. Kuparkir motorku, kurengkuh dan kugendong Icha menuju rumah almarhum Pak Hadi. Kubiarkan istriku berdiri sendiri di parkiran. Segera kutemui Bu Hadi, kuperkenalkan Icha kepadanya dan kusampaikan maksud kedatangan kami berdua.
"Bu Hadi, saya mengantar Icha untuk bertakziyah karena tadi pagi dia tidak ikut. Ini sebagai pembayaran janji saya kepada Icha untuk mengajaknya takziyah," kataku kepada Bu Hadi.
Icha pun bersalaman dengan Bu Hadi sebagai ungkapan takzim dan bela sungkawa. Setelah itu, kami segera mohon diri; kuhampiri istriku yang menunggu di tempat parkir. 
Sore itu, hatiku terasa plong telah memenuhi janjiku kepada Icha. Sejak itu, kubertekad dalam hati tak akan pernah lagi mengabaikan janji kecil dan kepada anak kecil sekalipun. Betapapun, janji adalah hutang yang harus dibayar (baca: ditepati), bukan? Jangan mentang-mentang kepada anak kecil, kita seenaknya berjanji dan seenaknya pula mengingkari. Nah! (*)

Penulis: Akhmad Saefudin SS ME

Editor: Parsito Tommy

Copyright ©2021 Suara Purwokerto. All Rights Reserved

Version: 1.20.1 | Build ID: zxM9ndV3oXb1kDK9zvugk