Suara Purwokerto

Nasional

Eny Sulistyowati SPd, SE Seni Tradisi Dalam Perspektif Manajemen Profesional

Kamis, 24 Maret 2016 12.42 WIB

Eny Sulistyowati SPd, SE Seni Tradisi Dalam Perspektif Manajemen Profesional

Suara Purwokerto -Menurut Eny Sulistyowati SPd, SE, masyarakat Indonesia tengah berada di persimpangan jalan. Di satu sisi tetap memegang nilai tradisi (lama), pada sisi lain harus menerima nilai modern (baru), dari kultur asing yang mendunia.

Masyarakat, terlebih kaum muda kini cenderung memilih seni budaya massa (pop), ketimbang budaya lokal, termasuk kesenian tradisi, ungkapnya di acara Bincang Budaya dengan para Wartawan yang tergabung di Forwan (Forum Wartawan Hiburan) Indonesia, di Anjungan DI Yogyakarta, Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta Timur, Senin (14/03/2016).

   Kemajuan jaman yang begitu pesat, tambah Eny, ditandai dengan membanjirnya berbagai produk telekomunikasi elektronik. Termasuk pergeseran nilai serta berlangsungnya transformasi sosial budaya. Masyarakat dimanjakan betul oleh berbagai fasilitas media dengan tontonan dan informasi menarik, ujar seniman pengusaha, yang kini tengah menyiapkan sebuah pertunjukan tari kolosal dalam rangka World Dance Day 2016 (Hari Tari Dunia), yang akan berlangsung di kota Solo, Kamis-Jum at (28-29/04/2016) mendatang.


          Manajemen Kelola Profesional


Banyak pihak, kata Eny, menyampaikan kegelisahan dan keprihatinannya mengenai kesenian tradisi yang semakin redup. Akhir-akhir ini kesenian tradisi, khususnya Jawa mengalami masa-masa sulit. Namun seharusnya hal ini, tukas Eny, tak menyurutkan semangat untuk tetap menghidupkan kesenian tradisi. Salah satunya melalui pendekatan manajemen kelola pertunjukan profesional. Sudah seharusnya seni pertunjukan tradisionil dapat dikelola lebih profesional agar lebih menarik, estetis, memiliki cita rasa universal, dan tetap punya ketahanan nilai, kata pendiri event organizer Tri Ardhika Production ini.


         Ada beberapa penyebab, kata Eny, mengapa masyarakat terutama anak-anak muda cenderung lebih menyukai seni (budaya) pop. Masyarakat saat ini, kata dia lagi, sangat dinamis, dan gampang bosan. Lebih menyukai hal-hal yang glamour, mudah dinikmati, dinamis, variatif, dan praktis. Termasuk dalam mencari hiburan dan rekreasi.


         Sementara kesenian kita, kata Eny, seringkali kalah menarik. Misalnya, sarana dan prasarana, artistik pementasan terkesan konvensional. Penggarapan teatrikalnya terasa monoton dan tidak berkembang. Tak heran jika hal ini berimplikasi pada menyusutnya jumlah penonton pada pementasan seni tradisi, ujar Sarjana Pendidikan Seni (S1) alumni Jurusan Bahasa dan Seni Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Negeri Surabaya ini.


        Terkait dengan persiapan World Dance Day 2016 (Hari Tari Dunia), Eny telah menyiapkan sebuah karya kontemplatif, tari Bedhaya. Tari ini menurutnya, merupakan manifestasi kekuatan batin seorang seniman, ketika menemukan sebuah kedalaman makna yang ia sebut; rasa yang tanpa rasa.


        "Dalam bidang seni tari, pencapaian tertinggi seorang seniman tari, adalah ketika ia sanggup (ngrepta) mencipta sebuah Bedhaya. Inilah nanti yang akan saya persembahkan dalam event seni tari internasional, World Dance Day 2016. Sebuah pengembaran imaji saya selama ini melalui berbagai kontemplasi yang saya dapatkan dengan semangat memberi arti bagi jatidiri bangsa, ungkapnya.


        World Dance Day 2016 (Hari Tari Dunia) nanti, terang Eny, juga akan dimeriahkan dengan berbagai pertunjukan seni, baik seni berbasis klasik tradisi, maupun seni kontemporer, serta menampilkan karya fenomenal spektakuler Solo 24 Jam Menari Non-stop. Melibatkan para seniman dari berbagai daerah di Indonesia serta masyarakat dunia dari berbagai manca negara. Hari Tari Dunia ini diselenggarakan atas kerjasama Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta dan Pemerintahan Kota Surakarta, serta Tri Ardhika Production bertindak sebagai sponsor emas (Utama).


         Kiprah Eny sebelumnya, terlibat dalam pementasan drama tradisional Cupu Manik Astagina, dan Sumpah Abimanyu.  Tahun 2013 sukses mementaskan opera sejarah bertajuk Ken Dedes Wanita di Balik Tahta di Jakarta dan Surabaya. Lalu di tahun 2014 kembali sukses mementaskan Wayang Wong (WO) Mahabandhana (Kekuatan Tali-Tali Berbisa), di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ). Pertengahan bulan Februari lalu (Jum at, 12/02/2016), Eny juga mendukung pementasan Wayang Orang (WO) Sriwedari, Soma Brata yang digelar di Sasono Langen Budoyo, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta. (Boeyil)


Penulis: Boeyil

Editor: andy

Berita Terkait

Suara Purwokerto adalah portal berita terpercaya yang menyajikan informasi terkini tentang berbagai topik penting di kawasan Purwokerto, Banyumas, Purbalingga, dan Cilacap. Dapatkan berita terbaru mengenai peristiwa lokal, ekonomi, politik, budaya, hiburan, dan wisata. Kami memberikan informasi yang relevan dan up-to-date setiap harinya, mulai dari berita nasional hingga cerita-cerita inspiratif yang hadir dari masyarakat sekitar.

Sebagai portal berita yang fokus pada perkembangan daerah, kami menghadirkan berita Purwokerto yang mencakup segala aspek kehidupan masyarakat. Mulai dari wisata yang mempesona di Jawa Tengah, kebijakan pemerintah yang berdampak langsung pada kehidupan warga, hingga berita-berita hiburan yang menghibur. Suara Purwokerto berkomitmen untuk memberikan informasi yang akurat dan terpercaya bagi pembaca di seluruh Indonesia.

Selain menyajikan berita-berita lokal, Suara Purwokerto juga menjadi tempat bagi kolom opini, artikel budaya, serta liputan mendalam tentang kehidupan sosial dan politik di Indonesia. Dengan berita hari ini yang selalu up-to-date, kami memastikan pembaca selalu mendapatkan informasi yang berguna dan bermanfaat untuk kehidupan sehari-hari mereka. Ikuti terus perkembangan terbaru dan jadilah bagian dari komunitas pembaca setia kami di Suara Purwokerto.

Logo Suara PurwokertoVersion: 1.29.3-ShpyxeJfAtiT1UnWutRNI