Rabu, 20 Mei 2026 13.38 WIB

Suara Purwokerto - Sekarang tampaknya ponsel pintar alias HP sudah naik kasta menjadi kebutuhan primer. Beda banget dengan zaman Orde Baru dulu. Kalau Anda sempat merasakan sekolah dari SD sampai SMA pada masa itu, pelajaran IPS selalu mendoktrin kita bahwa kebutuhan pokok manusia cuma tiga: sandang, pangan, dan papan.
Sayangnya, teori jadul itu sudah tidak relevan dengan dunia kekinian. Jangankan teori IPS, pepatah legendaris "malu bertanya sesat di jalan" saja sudah pensiun, digantikan dengan prinsip baru: "tidak lihat Google Maps, siap-siap nyasar ke kuburan". Di fakultas hukum, dosen Pidana biasanya mencontohkan pencurian benda tidak berwujud dengan kasus pencurian aliran listrik. Tapi hari gini, tanya saja ke anak muda, benda gaib apa yang paling berharga dan sering hilang misterius? Jawabannya jelas: pulsa dan kuota internet!
Bagi sebagian orang, HP bukan lagi sekadar alat komunikasi, tapi sudah jadi belahan jiwa, teman tidur, bahkan teman setia saat nongkrong di warkop. Saking intimnya, yang bikin ngeri adalah HP mulai menggeser posisi istri sah. Bagi sebagian bapak-bapak, gawai di tangan itu sudah seperti istri kedua yang paling pengertian.
Tapi jujur saja, HP memang punya sejuta sisi positif. Teknologi ini sukses mengubah wajah dunia secara instan hingga semuanya serasa dalam genggaman. Bayangkan, Gubernur Jenderal Daendels zaman dulu tidak perlu menyiksa rakyat untuk membangun jalan dari Anyer sampai Panarukan kalau tujuannya cuma demi jalur pengiriman surat pos antar-daerah. Kita juga tidak perlu lagi berdiri di depan pagar setiap pagi, mengosongkan waktu demi menunggu abang tukang koran lewat hanya untuk membaca berita yang sebetulnya sudah basi alias kejadiannya kemarin. Dan yang paling ikonik, tidak ada lagi drama antrean panjang orang-orang yang mau telepon atau main game di Warnet yang dulunya tidak pernah sepi.
Sayangnya, masa-masa penuh nostalgia itu sudah tamat dan resmi jadi kenangan. Semua fungsi dunia itu sekarang diperas dan dimasukkan ke dalam satu kotak kecil bernama HP, mulai dari media sosial sampai kecerdasan buatan (AI) yang super pintar. Namun, kemudahan medsos ini sering kali bertindak sebagai pedang bermata dua: di satu sisi bikin hidup serbapraktis, di sisi lain bisa jadi tiket gratis menuju jeruji besi.
Saking bebasnya platform medsos yang tersedia, orang-orang zaman sekarang kalau mikir langsung jempolnya yang jalan. Begitu kesal dengan seseorang, jadi korban ketidakadilan, atau melihat peristiwa dari yang super penting sampai yang remeh-temeh bin tidak bermutu, refleks pertama adalah langsung rekam! Sayangnya, video-video ini sering kali langsung diunggah ke medsos tanpa difilter dulu pakai akal sehat.
Fenomena memviralkan masalah pribadi atau ketidakadilan agar dilirik publik kini sudah jadi tren nasional. Jalur ini dianggap sebagai jalan pintas paling sakti demi mendapatkan penyelesaian cepat tanpa perlu pusing menghadapi birokrasi yang ruwet dan berbelit-belit. Makanya, tidak heran muncul jargon sarkas di masyarakat: "No Viral, No Justice"—kalau tidak viral, jangan harap dapat keadilan!
Tapi ingat, bermain api di medsos itu harus ekstra hati-hati. Kalau Anda asal serang, pihak yang Anda viralkan bisa saja menggunakan taktik counter-attack. Mereka tinggal datang ke kantor polisi dan melaporkan Anda dengan pasal karet pencemaran nama baik. Niatnya mau cari keadilan, malah berakhir pakai baju warna oranye. Kan berabe.
Lalu, bagaimana jurus aman biar kita bisa tetap eksis di medsos tanpa perlu waswas?
Pertama, kita harus paham—minimal tahu kulitnya saja tanpa harus kuliah hukum empat tahun—bahwa negara kita punya undang-undang yang mengawasi gerak-gerik kita di dunia maya. Ada UU ITE (Informasi dan Transaksi Elektronik), UU TPKS (Tindak Pidana Kekerasan Seksual), dan sekopong undang-undang lainnya. Tapi tenang, tidak perlu dihafalkan sampai bikin kepala botak, dan jangan pula ketakutan berlebihan. Percayalah, Indonesia adalah salah satu negara pembuat undang-undang paling produktif di dunia, meski dalam praktiknya, aturan tersebut juga yang paling rajin dilanggar oleh pejabat dan rakyatnya sendiri. Kuncinya cuma satu: jangan lebay merespons sesuatu dan tetap gunakan bahasa yang sopan biar jempol Anda tidak membawa petaka.
Jurus kedua yang tidak kalah penting: kalau mau bikin konten atau curhat, jangan pernah sebut nama atau menuduh seseorang secara terang-terangan. Termasuk kalau merekam video, jangan perlihatkan wajahnya secara glowing dan jelas, lalu main upload begitu saja. Gunakan inisial dan buramkan (blur) wajahnya. Dengan trik ini, musuh Anda bakal gigit jari karena tidak bisa menuntut Anda atas pasal pencemaran nama baik.
Selain itu, jadilah netizen yang cerdas dengan menyaring informasi yang masuk. Cek dulu kebenarannya sebelum membagikan, jangan sampai Anda malah ikut menjadi agen penyebar hoaks alias berita bohong.
Sebaliknya, bagaimana kalau justru nama baik kita yang diserang di medsos? Pesan saya: jangan terpancing untuk menyerang balik secara membabi buta. Menanggapi netizen toxic dengan cara mendiamkannya atau sekadar memberikan klarifikasi yang elegan adalah langkah yang jauh lebih bijak. Namun, kalau kelakuan mereka sudah keterlaluan dan stok kesabaran Anda sudah menipis, tidak usah banyak bising, langsung laporkan saja ke polisi.
Zaman sekarang, medsos memang sudah bergeser fungsi. Bukan lagi sekadar dunia maya tempat pamer estetika atau panggung pencitraan, melainkan sudah berubah menjadi arena saling lapor ke kepolisian. Saat kita memviralkan seseorang, pihak yang merasa dirugikan bakal pasang kuda-kuda untuk melapor balik, atau mereka akan sibuk mengubek-ubek jejak digital kita demi mencari kesalahan lain yang bisa dipidanakan.
Maka dari itu, hidup di era digital ini menuntut kita menjadi seperti pendekar silat: harus punya jurus mematikan untuk menyerang, tetapi juga wajib menguasai jurus sakti untuk menghindar.
Kesimpulannya, mari kita sikapi HP di tangan kita dengan bijak agar ia membawa manfaat, bukan malah berbalik menusuk dada kita sendiri. Nikmatilah dunia medsos ini dengan santai, anggap saja sebagai hiburan pelepas penat di kala senggang. Tetap suarakan ketidakadilan lewat jempolmu agar didengar oleh pihak berwenang, tetapi lakukan dengan strategi yang cantik biar tidak berujung repot dan bikin tidur malam tidak nyenyak.
Selamat menikmati hidup dan tetaplah menjadi kaum rebahan yang kritis!
Penulis : Dr. Junianto,S.H.,M.Kn.
Penulis: Junianto
Editor: Andi Ismer
Suara Purwokerto adalah portal berita terpercaya yang menyajikan informasi terkini tentang berbagai topik penting di kawasan Purwokerto, Banyumas, Purbalingga, dan Cilacap. Dapatkan berita terbaru mengenai peristiwa lokal, ekonomi, politik, budaya, hiburan, dan wisata. Kami memberikan informasi yang relevan dan up-to-date setiap harinya, mulai dari berita nasional hingga cerita-cerita inspiratif yang hadir dari masyarakat sekitar.
Sebagai portal berita yang fokus pada perkembangan daerah, kami menghadirkan berita Purwokerto yang mencakup segala aspek kehidupan masyarakat. Mulai dari wisata yang mempesona di Jawa Tengah, kebijakan pemerintah yang berdampak langsung pada kehidupan warga, hingga berita-berita hiburan yang menghibur. Suara Purwokerto berkomitmen untuk memberikan informasi yang akurat dan terpercaya bagi pembaca di seluruh Indonesia.
Selain menyajikan berita-berita lokal, Suara Purwokerto juga menjadi tempat bagi kolom opini, artikel budaya, serta liputan mendalam tentang kehidupan sosial dan politik di Indonesia. Dengan berita hari ini yang selalu up-to-date, kami memastikan pembaca selalu mendapatkan informasi yang berguna dan bermanfaat untuk kehidupan sehari-hari mereka. Ikuti terus perkembangan terbaru dan jadilah bagian dari komunitas pembaca setia kami di Suara Purwokerto.

Copyright ©2026 Suara Purwokerto. All Rights Reserved
Version: 1.29.3-ShpyxeJfAtiT1UnWutRNI