Nasional

Temukan Ratusan Baterai Mati, Ganjar Akan Rumuskan Pengelolaan Listrik Pulau Parang

Jumat, 10 September 2021 18:59 WIB

Temukan Ratusan Baterai Mati, Ganjar Akan Rumuskan Pengelolaan Listrik Pulau Parang

Suara Purwokerto - JEPARA – Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo menemukan fakta yang mengejutkan saat mengecek pembangkit listrik di Pulau Parang, Kecamatan Karimunjawa, Jumat (10/9/2021). Saat masuk ke pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) bantuan Kementerian ESDM, Ganjar menemukan ratusan baterai di tempat itu mati.
Akibat matinya baterai itu, pasokan listrik di tempat itu menjadi terganggu. Saat ini, sumber listrik didapat dari pembangkit listrik tenaga diesel dan sebagian tenaga surya dari pembangkit listrik bantuan Denmark.
“Ini sudah lama tidak berfungsi pak. Baterainya mati semua. Kami kalau beli tidak sanggup karena biayanya mahal sekali,” kata Petinggi Pulau Parang, Muh Zaenal Arifin.
Zaenal mengatakan, listrik di desanya itu memang sudah menyala 24 jam. Namun karena salah satu sumber energi tidak berfungsi sejak 2004 lalu karena baterai mati, pasokan listrik agak terganggu.
“Kami berharap Pak Ganjar bisa membantu. Kami titip supaya listrik di Pulau Parang, Nyamuk, dan Genting, bisa seperti Karimunjawa. Yang mengelola PLN,” ucapnya.
Diakui, jika listrik dikelola mandiri oleh warga, biaya operasional dan perawatan dirasa sangat memberatkan. Meskipun ada subsidi, namun masyarakat tidak bisa kalau harus membeli baterai.
“Kami sudah mengajukan bantuan ke pemda, sudah lima tahun belum ada penanganan,” ucapnya.
Dalam kesempatan itu, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengatakan, memang butuh transformasi energi termasuk dalam pengelolaan listrik di Pulau Parang. Sebab jika dibebankan warga, warga tidak akan sanggup.
“Dulu saya ingat betul, saya masuk Karimunjawa listrik pakai diesel dan hanya menyala enam jam. Setelah itu kita bantu sekarang bisa 24 jam. Di Pulau Parang ini juga dulu tidak ada listrik, kemudian diambilkan diesel bekas dari Karimunjawa untuk di sini,” jelasnya.
Sebenarnya, kata Ganjar, listrik di desa Parang juga sudah menyala 24 jam. Selain diesel, ada sumber lain, yakni PLTS bantuan Kementerian ESDM, dan satu lagi dari Denmark. Sumber-sumber itu kemudian di-hybrid agar listrik bisa menyala 24 jam.
“Hanya yang PLTS ini ada problem, baterainya sudah rusak. Maka sepertinya, hari ini perlu dilakukan transformasi pengelolaan sekaligus kelembagaannya, agar bisa efisien. Kalau tidak, maka perlu intervensi,” jelasnya.
Ganjar mendukung usulan dari Petinggi dan Camat agar PLN membantu dalam hal pengelolaan listrik di pulau itu. Sebab kalau dikelola warga, maka mereka keberatan.
“Nanti Pemda saya ajak bicara, termasuk dari PLN. Rasanya PLN memang perlu bantu. Memang di remote area seperti ini, harus ada perlakuan khusus,” jelasnya.
Jika subsidi diberikan untuk keadilan, menurut Ganjar, di Pulau Parang inilah subsidi harus diberikan secara lebih. Sebab dari sisi sumberdaya, semua masih kekurangan.
“Di sini sumberdaya agak terbatas, maka perlu diberikan penanganan khusus. Nanti kita ajak bicara Pemkab Jepara dan instansi terkait. Termasuk harapan saya, ada yang mendampingi entah dari perguruan tinggi atau perusahaan, yang membuat desain pengembangan wilayah yang berorientasi lingkungan termasuk pariwisata,” pungkasnya. (Sumber : Humas Jateng)

Penulis: Parsito Tommy

Editor: Andy Ismer

Copyright ©2021 Suara Purwokerto. All Rights Reserved

Version: 1.20.1 | Build ID: zxM9ndV3oXb1kDK9zvugk