Suara Purwokerto

Hiburan

Apresiasi Perlu Digali di Dunia Musik Dan Film Indonesia

Sabtu, 19 Maret 2016 10.46 WIB

Apresiasi Perlu Digali di Dunia Musik Dan Film Indonesia

Musisi yang juga aktor senior, H. Enteng Tanamal, menyampaikan bahwa pencipta lagu di Indonesia kurang dihargai. Padahal menurutnya, pencipta lagu telah berjasa menciptakan lapangan kerja, yang dapat menyerap jutaan tenaga kerja di industri musik.
Pencipta lagu profesi mulia. Penyanyi tanpa lagu tak mungkin menyanyi. Industri musik tidak akan ada tanpa pencipta lagu. Di Amerika pencipta lagu jauh lebih dihargai dan sejahtera ketimbang di Indonesia, tukasnya, di tengah peserta dialog Ngalor-Ngidul Menyoal Industri Musik dan Film Indonesia, yang berlangsung di Gedung Film, Jakarta, Kamis (17/03/2016).
Masih banyak pihak, lanjut Enteng, belum memahami benar bagaimana kewajiban memakai karya cipta lagu. Seperti pengusaha jasa industri hiburan yang hanya mengenal tentang performing right atau hak untuk mengumumkan atau menyiarkan. Padahal ada yang berkaitan langsung dengan pencipta lagu, yaitu mechanical right atau hak untuk menggandakan. Parahnya lagi banyak aparat penegak hukum, seperti Polisi, Hakim, dan Jaksa, yang belum mengerti dalam soal ini, tegas Enteng.
Rendahnya apresiasi terhadap para pencipta lagu, kata Enteng, menimbulkan kerugian bagi pencipta lagu, baik kerugian dari aspek Hak Moral maupun Hak Ekonomi. Undang-Undang Republik Indonesia No.28 Tahun 2014 Tentang Hak Cipta, sudah jelas mengatur hal ini. Hak moral sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 merupakan hak yang melekat secara abadi pada diri pencipta lagu. Pada Pasal 8 jelas dikatakan, hak ekonomi merupakan hak eksklusif  Pencipta atau Pemegang Hak Cipta untuk mendapatkan hak ekonomi atas ciptaannya, papar Enteng.

Cerita Film Dalam Konteks Ke-Indonesia-an

Pada bagian awal diskusi ini juga menyoal perkara film. Peserta diskusi umumnya mempersoalkan film Indonesia yang tak lagi membumi. Film Indonesia, dinilai hanya menyuguhkan segudang mimpi bukan kenyataan.  Kurang menghargai apa yang menjadi hak penonton.

Film kehilangan nilai esensialnya. Film selain rekreatif, mestinya ada nilai deduktif, estetis, moralitas, religius, serta mengandung kebenaran. Sineas kita seringkali cepat puas dalam pencapaian secara teknik, tapi tak punya ruh. Apalagi bicara dalam konteks ke-Indonesiaan, ungkap seniman tradisi Eny Sulistyowati SPd, SE, salah satu peserta diskusi.

Menurut Ully Sigar Rusady, film tercipta membawa pesan tersendiri. Selain media hiburan, ia juga media edukasi. Karenanya film harus dapat merefleksikan kehidupan nyata masyarakat. Jadi selain menikmati hiburan melalui film, masyarakat juga selayaknya mendapat pelajaran serta pendidikan moral, papar Ully, yang hadir sekaligus menayangkan trailer film layar lebar gagasannya,  My Journey  (film yang bercerita tentang lingkungan hidup).

Para insan musik dan film, mengharapkan agar diskusi serupa dapat digelar secara periodik. Banyak gagasan, dan pemikiran mendalam, serta tindakan komprehensif yang perlu dilakukan secara berkesinambungan, guna menata industri musik dan film Indonesia.

Wartawan harusnya sadar untuk membela. Yang harus dikoreksi itu adalah aparat. KCI (Karya Cipta Indonesia) harusnya naik kelas menjadi semacam badan penanggulangan pelanggaran hak cipta. FORWAN (Forum Wartawan Hiburan) Indonesia, bikin rekomendasi yang tegas untuk memperjuangkan hak cipta, ujar Dewan Pertimbangan Forwan, Ir. Setiabudi A.C. Nurdin.

Dialog yang digagas FORWAN (Forum Wartawan Hiburan) Indonesia dan SENAKKI (Sekretariat Nasional Kine Klub Indonesia) tersebut, diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Musik Indonesia (9 Maret 2013 - 2016), dan Hari Film Nasional (30 Maret 1950 - 2016).

Hadir di acara tersebut sejumlah para seniman, budayawan, insan musik dan film, pemerhati musik dan film. Diantaranya H. Enteng Tanamal, Ully Sigar Rusady, seniman tradisi Eny Sulistyowati SPd, SE, penyanyi Alfian Kadang, personil Band Radja (Ian Kasela, Moldyansyah Kusnadi, Indra, dan Seno Adjie Wibowo), serta Drs. H. Sudarmanto, MM, dari TV Link.

Hadir juga para pelaku industri, anggota komunitas dan lembaga musik dan film, diantaranya dari Vidi Vici Multimedia, TV Link,Tri Ardhika Production, KCI (Karya Cipta Indonesia), PAPPRI (Persatuan Artis Penyanyi, Pencipta Lagu dan Pemusik Republik Indonesia), SENAKKI (Sekretariat Nasional Kine Klub Indonesia), Pusat Pengembangan Perfilman (Pusbang Film) Kemendikbud, LSF (Lembaga Sensor Film), serta dari Yayasan Garuda Nusantara (Gabungan Rumpun Pemuda Nusantara

Penulis: BOEYIL

Editor: andyisme

Berita Terkait

Suara Purwokerto adalah portal berita terpercaya yang menyajikan informasi terkini tentang berbagai topik penting di kawasan Purwokerto, Banyumas, Purbalingga, dan Cilacap. Dapatkan berita terbaru mengenai peristiwa lokal, ekonomi, politik, budaya, hiburan, dan wisata. Kami memberikan informasi yang relevan dan up-to-date setiap harinya, mulai dari berita nasional hingga cerita-cerita inspiratif yang hadir dari masyarakat sekitar.

Sebagai portal berita yang fokus pada perkembangan daerah, kami menghadirkan berita Purwokerto yang mencakup segala aspek kehidupan masyarakat. Mulai dari wisata yang mempesona di Jawa Tengah, kebijakan pemerintah yang berdampak langsung pada kehidupan warga, hingga berita-berita hiburan yang menghibur. Suara Purwokerto berkomitmen untuk memberikan informasi yang akurat dan terpercaya bagi pembaca di seluruh Indonesia.

Selain menyajikan berita-berita lokal, Suara Purwokerto juga menjadi tempat bagi kolom opini, artikel budaya, serta liputan mendalam tentang kehidupan sosial dan politik di Indonesia. Dengan berita hari ini yang selalu up-to-date, kami memastikan pembaca selalu mendapatkan informasi yang berguna dan bermanfaat untuk kehidupan sehari-hari mereka. Ikuti terus perkembangan terbaru dan jadilah bagian dari komunitas pembaca setia kami di Suara Purwokerto.

Logo Suara PurwokertoVersion: 1.29.3-ShpyxeJfAtiT1UnWutRNI