Budaya

SOKOLA BUTET, SEMAR DAN TOGOG

Sabtu, 10 September 2022 03:18 WIB

Jarot C Setyoko


Oleh: Jarot C. Setyoko

“Ilmu pengetahuan selalu membawa kutukannya sendiri’. Saya kembali mendengar kalimat ini dari film “Sokola Rimba” yang sepekan lalu, saya tonton untuk  keduakalinya. Ini bukan jenis film yang menghibur, dan oleh karena itu pada masa edarnya tak banyak meraup jumlah penonton. Tema film ini ‘terlampau serius’ bagi mereka menyukai film “Ada Apa Dengan Cinta”. Bergenre semi dokumenter dengan cerita berbasis kisah nyata Butet Manurung saat menyemai ‘pencerahan’ di belantara Bukit Duabelas, sudah pasti plot film  ini terasa ampang dibanding dengan “Hantu Nenek Gayung”.

Namun baiklah, saya tak ingin bercerita soal sinematografi. Ini cerita soal perubahan sosial yang kebetulan menjadi tema film, yang selalu menghadapkan dua ‘tokoh’ utama. Di satu sisi, keyakinan bahwa masa lalu haruslah kekal dan tak boleh diusik. Lalu di seberang sisi lain, ada kehendak berubah yang mempercayai masa depan bisa direka menjadi lebih baik. 

Membauri ketenangan Suku Anak Dalam di  pelosok Jambi, Butet dengan segera memergoki dilema ini: Membiarkan harmoni tak tersentuh dan berlangsung apa adanya, atau menyulut pengetahuan agar orang-orang rimba itu memahami ancaman dari ‘dunia terbuka’ terhadap ‘dunia tersembunyi’ mereka. Meski yang disebut menyulut pengetahuan itu sejatinya tak lebih dari mengajari membaca, menulis dan berhitung. Sementara di mata Butet, senyatanya ancaman itu tak terhindarkan lagi ketika sepetak demi sepetak hutan alam tergusur oleh perkebunan yang ditopang kuasa harta dari ‘dunia terbuka’. 

Lalu saya teringat wejangan Suwargi Eyang Pringgo yang dulu mengajariku pedalangan. Saya tak ingat persisnya, tapi sudah pasti lebih dari 25 tahun silam. Syahdan pada masa awang-uwung jagad pewayangan, Hyang Wenang memanggil kedua anaknya, Hyang Antaga dan Hyang Ismaya. Bertanyalah Hyang Wenang pada mereka, “Apa yang selalu setia mengikuti hidup manusia?”. 

Antaga yang kelak bernama Togog menjawab dengan penuh yakin, hasrat! Sementara Ismaya yang kemudian bernama Semar memiliki jawaban lain, bayang-bayang. Atas kuasa Hyang Wenang, maka terciptalah Si Bilung atau Sarawita dari hasrat Togog. Lalu juga Si Bawor atau Bagong yang disabda dari bayang-bayang Semar. 

Mungkin karena itulah Bilung dideskripsikan sebagai karakter yang ‘sekarepe dhewek’, tidak tahu aturan dan tidak memiliki kesetiaan. Bahkan dalam pakeliran seringkali diceritakan, demi keuntungan diri sendiri Bilung bisa saja mengkhianati si raja sabrang yang menjadi majikannya. Sedangkan Bawor dilukiskan sebagai sosok lugu, apa adanya, ‘mbrengkunung’  namun selalu setia pada apa yang diyakininya. 

Pertanyaannya kemudian, jawaban siapa yang benar di antara keduanya? “Ini bukan soal salah dan benar, Ngger,” begitulah Eyang Pringgo menjawab pertanyaanku yang naif kala itu. “Sebab senyatanya hasrat dan bayang-bayang adalah dua hal yang selalu mengiring ‘kasunyatan’. Seniscaya kelahiran dan kematian menyertai kehidupan.” 

Hasrat, kata dalang sepuh itu, adalah keinginan untuk selalu mengubah kehidupan demi menemukan keadaan yang lebih baik dibanding masa sebelumnya. Sementara bayang-bayang adalah pengalaman hidup pada silam hari, yang telah memberikan ukuran baik dan buruk pada saat ini. Jika hasrat adalah pembuka pergerakan jaman, maka bebayang yang memberi rambu-rambu di atas lintasan masa yang akan dilewati.  

Di antara silang dua koordinat itu, di situlah letak ‘kasunyatan’, yaitu realitas kehidupan manusia dengan segala kerumitannya. Dalam falsafah pewayangan, kata Eyang Pringgo, ‘kasunyatan’ dilambangkan dengan eksistensi Hyang Manikmaya. Yakni sosok ketiga yang mewakili pertautan nafsu, kehendak berubah, watak istikamah, sekaligus kekolotan. 

“Dengan demikan Togog dan ‘bala sabrang’ bukanlah ‘liyan’ dalam kosmos kesadaran orang Jawa. Togog dengan ‘bala sabrang’, dan Semar dengan ‘bala tengen’, adalah dua sisi dari satu kesatuan alam pikir untuk memaknai kenyataan yang kita pijak hari ini,” begitulah singkat kata wejangan Eyang Pringgo kala itu. 

Toh waktu itu otak saya tetap tak mudah menafsir makna ‘pitutur’ tadi, yang bahkan terasa jadul bagi nalar saya yang tengah beranjak sekuler. Tetapi justru di bangku kampus, kemudian saya menemui penalaran Friederich Hegel ini, bahwa gerak jaman selalu berjalan di atas hukum dialektika. Kebenaran yang mapan pada suatu masa hanyalah thesa yang sementara, yang akan diuji oleh  antithesa atau kebenaran lain di sisi seberangnya. Dari hubungan dialektis itu tumbuh kebenaran lain yang menengahi dua sisi, itulah sinthesa. Lalu sinthesa kembali mapan dan menjadi thesa, lalu diuji lagi dengan antithesa baru, lalu muncul lagi sinthesa baru, dan seterusnya, dan selanjutnya. 

Hanya saja kita juga tahu, pergeseran medan sosial dan tatanan hidup tidaklah semudah memahami cerita film dan mencerna sepatah teori. Selalu ada biaya sosial yang mesti dibayarkan, dan resiko terjadinya involusi yang menjauhkan proses dari titik tujuan. Dalam kisah “Sokola Rimba”, pengorbanan sosial itu adalah terusiknya harmoni yang telah mapan bersilam-silam tahun lamanya. Itulah pengorbanan atas kemampuan baca Si Bungo, murid Butet, yang membuat sukunya melek huruf dan mengerti isi surat perjanjian yang disodorkan para pengembang lahan. 

Itikad Butet yang orang Batak dan Sokola Rimba yang di pedalaman Jambi, barangkali adalah medan penjelas bagi universalitas pikiran Eyang Pringgo yang Jawa. Katanya, “Hasrat Togog dan bayang-bayang Semar akan terus mengiringi setiap lakon manusia, di atas bumi manapun ia berada. Karena di antara kedua titik itulah garis kehidupan berlanjut dan menjadi gerak zaman”. 

Saya tak tahu entah darimana Eyang Pringgo mendapatkan ‘ngelmu’ yang nyaris konvergen dengan teori dialektika Hegel ini. Tetapi semenjak itu saya mulai berpikir, di balik penampakannya yang kuno dan kedaluwarsa, kosmologi ‘ngelmu’ orang Jawa ternyata menyimpan ‘ketinggian’ yang tak terduga, yang tersembunyi dari keriuhan penalaran ilmiah ala Barat.(*)

*) Tulisan ini di-publish dalam rangka Hari Literasi Nasional 8 September 2022.
**) Penulis adalah orang Purwokerto yang sedang belajar menjadi dalang ebeg.

Penulis: Jarot C Setyoko

Editor: Andy Ismer

Berita Terkait

Copyright ©2022 Suara Purwokerto. All Rights Reserved

Version: 1.21.2 | Build ID: qcGjvQDhJWW69CaCs8gPc