Budaya

Situs Watu Sumur Desa Kebocoran Kedungbanteng

Senin, 24 Juni 2019 21:53 WIB

Suara Purwokerto - Menelusuri jejak sejarah masa lalu serasa membawa kita kembali mendaki perjalanan para pinisepuh atau leluhur yang telah meinggalkan warisan berupa,daun lontar,batu bertulis, babad, benda-keramik,maqam, maqom dll.

Peninggalan sejarah masa lalu memberikan pembelajaran yang sangat luas bagi generasi berikutnya untuk menggali nilai-nilai yang terkandung di dalamnya agar membaca,mempelajari serta memahami apa yang telah dilakukan generasi lalu agar dijadikan sebuah inspirasi menghadapi peradaban yang baru tanpa tercerabut jati dirinya.

Situs Sumur Watu merupakan jejak masa lalu perjalanan saat Kanjeng Sunan Kalijaga melakukan perjalanan dakwahnya di daerah Kabupaten Banyumas tempu dulu bersama seorang muridnya bernama Ki Agung Sela,

Desa Kebocoran saat itu masih berupa hutan belantara belum banyak dihuni manusia,perjalanan menuju
Paguwon (Purwokerto) usai menemui Adipati Pasirluhur berhenti sejenak di sebuah pedukuhan yang kini dinamakan Grumbul Sumur Watu.

Kuda Kanjeng Sunan Kalijaga di tambatkan di sebuah tempat sebelah batu hitam dan diikatkan pada sebuah pohon,tepat menambatkan kuda kemudian diberi nama Watu Gedogan (kandang jaran).

Kemudian bergegas menuju arah utara untuk beristirahat sejenak melepaskan lelah duduk disebuah batu batu besar yang bentuk sebelah kirinya miring sehingga dapat digunakan untuk beristirahat sembari menikmati makanan yang dibawanya.,batu itu kemudian dinamakan Watu Tumpeng

Saat itu kemarau panjang melanda daerah Sumur Watu dan sekitarnya ,sangat sulit ditemukan air, Maka Kanjeng Sunan Kalijaga memerintahkan Ki Agung Sela untuk mencari air agar dapat digunakan berwudlu.

Di sebuah batu besar Ki Agung Sela duduk bersila bermunajat kepada Yang Maha Kuasa dengan memegang sebuah batu berbentuk bundar agak lonjong untuk menghitung dzikir yang dilakukan, Ada tiga batu yang dikumpulkan untuk menghitung dzikirnya,

Setiap kali berdoa maka batu itu diketukkan pada lempengan batu besar ,lambat laun batu itu menjadi berlubang dan diseb;lah barat batu lempeng besar itu keluarlah air.

Begitulah air yang memancar itu digunakan untuk berwudlu kemudian Ki Agung Sela berbegas menuju arah barat di sebuah batu melakukan sembahyang yang kemudian dikenal dengan Watu Tajug.

Situs Terawat Dengan Baik

Situs Sumur Watu masih terawat dengan baik, komplek berukuran 3 x 3 m dipinggirnya diipagar dengan pohon teh-tehan,dipojok sebelah kanan situs Sumur Watu terdapat tiga batu.

Sumur Watu terletak di bawah Pohon Putat,sebuah pohon yang telah berusia ratusan tahun menjadi peneduh keberadaan situs Sumur Watu , Situs Sumur Watu berada dipojok sebelah Utara dekat dengan jalan setapak

Pohon Putat bentuk batangnya bulat, dipangkal batang bawah berlobang sepanjang 1-1,5 m berbentuk seperti Kentong yang biasa terdapat di Tajug/Mushola/Langgar.

Kepedulian warga msyarakat terhadap kelangsungan keberadaan Situs Sumur Watu patut diapresiasi karena merasa memiliki sejak jaman dahulu sampai sekarang sangat memperhatikan dengan menyapu membersihkan daun-daun pohon Putat yang berjatuhan, memangkas pohon teh-tehan, mencabut rumput dll

Sejarah Situs Sumur Watu masih membutukan penelusuran baik berupa literatur,data-data yang berdasarkan dari hasil wawancara dengan berbagai kalangan masyarakat grumbul Sumur Watu, pihak Pemdes, Pemda, akademisi agar dapat diungkap kebenaran sejarahnya. Karena selama ini yang ada dari tutur tinular dari generasi sepuh ke generasi muda.

Demikianlah kisah sejarah Situs sumur Watu yang dirangkum dari wawncara dengan tokoh masyarakat, , juru kunci, pemilik tanah, dan warga sekitar situs

Mudah-mudahan tulisan Kang Mul yang sangat sederhana ini dapat memberikan sumbangsih bagi pelestarian Cagar Budaya dan Benda Bersejarah di Kabupaten Banyumas.

Karangnangka 24 Juni 2019

Mulyono Harsosuwito Putra
Ketua Institut Studi Pedesaan dan Kawasan

Penulis: Kang Mul

Editor: Ismer

Copyright ©2019 Suara Purwokerto. All Rights Reserved

Version: | Build ID: gGD0ttnFvl5RuVvcC7qN4