Budaya

Mudik,Melepas Rutinitas dan Silaturahmi

Senin, 03 Juni 2019 07:58 WIB

Suara Purwokerto - Menjelang lima hari berakhirnya bulan puasa Ramadhan pergerakan atau mobilitas masyarakat dari kota ke desa semakin mulai terasa ditandai dengan padatnya jalur arus lalu lintas perhubungan darat.air dan udara.

Kampung menjadi tujuan para perantau untuk mudik ketanah kelahiranya bertemu dengan orang tua,anak istri, keluarga, saudara dengan mengunakan kendaraan roda dua,mobil,bus ,kereta api,kapal laut,kapal udara menempuh perjalanan memakan waktu ,menguras tenaga dan baya,juga rela bedesakan-desakan terjebak dalam kemacetan>Bahkan kalau tidak hati-hati diperjalanan dapat berakibat fatal terjadi kecelakaan.

Mereka berbondong-bondong menuju kampung halaman atau desa untuk merayakan hari kemenangan Hari Raya Idul Fitri atau Bakda (bhs Jawa) bertemu dan berkumpul dengan keluarga ,sanak keluarga, sahabat yang ada di kampung halaman.

Kampung halaman atau desa menjadi ajang melepas rindu atau kangen setelah sekian lamanya tak berjumpa saling berbagai cerita,berbagi pengalaman ,bertukar pikiran berdiskusi tentang banyak hal sembari meikmati makanan khas lebaran .

Kembali Kampung merupakan simbolisasi Lebaran yang mengandung makna kembalinya manusia ke asal usul kelahiranya sebuah tempat saat diturunkan dimuki bumi dengan kondisi masih suci dari dosa ,

Kampung merupakan perwujudan arena kembalinya umat manusia berkumpul melepaskan rasa rindu,dan kangen,setelah sekian lamanya tak berjumpa karena dipisahkan, waktu,letak geografis dan faktor lainnya

Yang membuat antara saudara dengan dengan saudara lainnya tak dapat bertemu ,bertatatap muka ,bersendaugurau, bercerita ,tertawa melepas kerinduan sekiat waktunya tak bertemu menyambung dan merajut silaturahmi.

Pulang ke kampung halaman atau desa yang lazim dikenal dengan istilah "mudik' menjadi tempat melepaskan lelah ,rutinitas , kejenuhan ,kebisingan,kemacetan sehari-hari dikota kota besar atau perantauan.

Asal Kata Mudik

Mudik berasal dari kata bahasa Jawa Ngoko singkata dari kata mulik dilik yang artinya pulang sebentar

Pada awalnya kata mudik tidak ada sangkut pautnya atau berhubungan dengan kegiatan dengan lebaran idul fitri

Namun pengertian mudik mengalami perubahan makna yaitu apabia dikaitkan dengan kata udik yang artinya kampung,,desa,tenpat kelahiran .

Kemudian kata udik mendapat tambahan kata mulih sehingga berubah menjadi kata "mulih udik " kembali kempung atu ke desa pada saat lebaran .

Menurut kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) online (bahasa.kemdiknas.go.id/kbbi/index.php ) definisi mudik adalah:sebagai berikut:

"(berlayar, pergi) ke udik (hulu sungai, pedalaman): dr Palembang (mudik) sampai ke Sakayu; 2 cak pulang ke kampung halaman: seminggu menjelang Lebaran sudah banyak orang yg (mudik); (mudik) menyongsong arus, hilir menyongsong pasang, pb tt usaha yg mendapat rintangan dr kiri dan kanan namun diteruskan juga; belum tentu hilir (mudik) nya, pb belum tentu keputusan atau kesudahan suatu hal atau perkara; kokoh, baik dl soal yg kecil-kecil maupun dl soal yg besar-besar; ke (mudik) tentu hulunya, ke hilir tentu muaranya, pb suatu maksud atau niat hendaklah tentu wujud atau tujuannya;"

Sejarah Mudik

Tradisi mudik sebenarnya merupakan tradisi primordial masyarakat petani di Jawa yang sudah berjalan sejak sebelum zaman Kerajaan Majapahit.

Dahulu para perantau pulang ke kampung halaman untuk membersihkan makam para leluhurnya. Hal ini dilakukan untuk meminta keselamatan dalam mencari rezeki.

Iistilah mudik lebaran baru berkembangdi Indonesia khusunya masyarakat Jawa sekitar tahun 1970-an. Pada saat itu Jakarta sebagai ibukota negara Indonesia menjadi satu-satunya kota di Indonesia yang mengalami perkembangan dan pertumbuhan ekoomi yang sangat pesat.

Sistem pemerintahan Indonesia yang menganut sistem sentralisasi menyebabkan kota Jakart sebagai ibukota negara Indonesia paling pesat kemajuannya dibandingkan kota-kota besar lainnya di Tanah Air.

Jakarta sebagai kota metropolitan menjadi salah satu kota impian dan tujuan masyarakat desa untuk mereka mengubah nasib.agar lebih dibandingkan kehidupan di desa atau kampung yang masih mengandalkan sektor pertanian

Industrialisas menjadi daya tarik masyarakat desa atau kampung yang mmebuat perubahan sistem kehidupan berubah sangat cepat sehingga melahirkan arus perindahan masyarakat desa ke kota .

Beradasarkan data 80 persen masyarakat desa atau kampung melakukan urbanisisasi ke kota Jakarta untuk mencari pekerjaan. baik bekerja di perusahan/pabrik, pertokoan,perkantoran,perdagangan .

Bekerja dan menetap di kota Jakarta berbulan bulan lamanya sehingga jarang pulang kekampung halaman dengan berbagai alasan seperti keuangan,waktu dan jarak tempuh

Saat libur panjang pada saat lebaran tiba kesempatan ituilah yang dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk kembali mudik ke desa atau kampung halaman

Kenapa Harus Mudik

Mudik Lebaran sudah menjadi tradisi dan budaya masyarakat Islam di Indonesia menjadi momentum sangat penting sangat sakral pulang untuk merayakan lebaran atau bakda untuk berkumpul bersama keluarga dan mengucapkan selamat idul fitri ini .

Meskipun jaman telah mengalami kemajuan pesat dalam bidang kumikasi dan informatika dengan lahirrinya alat-alat -komunikasi seperti telepon,smartphone,internet dengan aplikasi WA,BB,Video Call dan lain-lainnya.

Mereka rela antre, berdesak-desakan ,terjebak dalam kemacetan yang panjang ,berjam-jam dalam perjalanan hanya untuk melaksanakan tradisi mudik lebaran atau pulang ke kampung halaman untuk berkumpul bersama keluarga saat lebaran.

Mudik sangat istimewa dan spesial menjadi ajang rekreasi dan refresing menikmati perjalanan dari kota ke desa sesuatu yang langka dan hanya ada di negara Indonesia .

Orang tak jera untuk melakukan mudik dari waktu ke waktu dari tahun ke tahun .Terasa ada yang kurang apabila tak pulang kampung halaman atau desa setiap lebaran tiba.

Mudik sudah mendarah daging bagi masyarakat Islam Indonesia .Ia tak mungkin dapat dihilangkan karena sudah menjadi tradisi dan budaya yang mempunyai akar sejarah panjang yang lahir ,tuumbuh dan berkembang di Indonesia

Karangnangka 03 Juni 2019

Mulyono Harsosuwito Putra 
Wakil Ketua PC LPNU Banyumas

Penulis: Kang Mul

Editor: Ismer

Copyright ©2019 Suara Purwokerto. All Rights Reserved

Version: | Build ID: 31aJ0MuO18PZM3MdYoDSu