Lingkar Banyumas

Siswanto Perintis Gula Jawa Cair Organik Asal Desa Kranggan

Sabtu, 09 Juli 2016 02:00 WIB

Suara PurwokertoKegigihan dan perjuangan Siswanto (40) warga RT 02 RW 01" Desa Kranggan ,Kecamatan,Pekuncen Kabupaten Banyumas untuk mengubah bentuk Gula Jawa,atau Gula Merah dari bentuk padat menjadi bentuk cair dikemas dengan botol plastik membutuhkan proses panjang yang telah dirintis setahun yang lalu tepanya bulan Juli 2015.patut mendapatkan apresiasi dari semua pihak atas ide brilian pemuda desa berperawakan kerempeng.

Tak mudah melakukan perubahan karena memerlukan berbagai pengorbanan dan tantangan oleh karena para pengrajin Gula Jawa sejak jaman dahulu sampai sekarang masih bertahan dengan cetakan Gula Merah berebentuk padat yang dicetak dengan potongan pohon bambu dengan berbagai ukuran.

Perkembangan Gula Jawa padat menjadi bentuk Gula Kristal yang makin disukai oleh pengrajin dan pengusaha Gula Jawa untuk memenuhi permintaan pasar di kota-kota besar dengan harga yang lebih tnggi dibandingkan Gula Jawa padat menjadi salah satu revolusi Gula Jawa ditengah kemajuan tuntunan jaman dimana standar ,kualitas,dan bentuk Gula Jawa harus berubah agar bisa bersaing dengan produk-produk kerjinan lainnya.dengan perubahan bentuk dan kemasan.

Siswanto mempunyai sejarah panjang sejak menjadi penderas yang telah dilalui selama 7 tahun dengan menggantungkan seluruh kebutuhan hidupnya dengan menderes 30-40 pohon, Setiap pagi dan sore ,harus menaiki pohon kelapa dengan ketinggian 5-20m untuk mengambil air nira lengakap dengan pongkor (tabung yang terbuat dari bambu) dan sabit untuk mengiris manggar agar menghasilkan air nira untuk pagi dan sore harinya.

Tuntutan hidupdan keinginan untuk merubah nasib agar dapat hidup lebih layak lagi membuat Siswanto , bapak dua anak hasil pernikahannya dengan Artinah (37) memberanikan diri menjadi penampung air nira untuk memenuhi permintaan pengusaha asal Cirebon .Usaha mengepul air nira yang selama ini dimasak langsung oleh petani adalah upaya mengubah pegolahan berbasis perseorangan dengan memasak air nira menjadi gula merah padat.

Setelah 4 tahun menekuni usaha penampung air nira, Siswanto mulai berpikir kenapa tidak diolah sendiri,bukan dijual kepada pengusaha kota Cirebon. Sebersit pikirannya dituangkan dengan membeli Tabung Stenlis ,Bak Penampung,Tunggku Pemanas ,Dream Plastik .serta rumah tempat memasak dengan total biaya Rp.50.000.000 dengan modal yang dikumpulkan dari tabungan dan pinjaman dari Bank BRI.

Proses Pembuatan Gula Jawa Cair Organik

Bahan Gula Jawa Cair Organik terdiri dari Air Nira kemudian dicampur dengan rendaman kulit buah manggis atau klika kayu nangka (potongan-potongan kayu nangka yang dipotong kecil-kecil ) dengan ukuran perbaandingan yang telah ditentukan sebagai bahan pengawet yang bersifat organik.

Pembuatan Gula Cair Organik sebenarnya tidak jauh berbeda dengan pembuatan Gula Jawa padat yang biasa diilakukan oleh pengrajin Gula Jawa pada umumnya yang membedakan wadah tempat memasak yaitu dari wajan yang terbuat dari besi dengan Tabung Steinles yang dapat menampung 1000.Liter

Tahap pertama Air Nira yang dikumpulkan dari 30 penderes dengan harga Rp 1.700 - Rp.2000 per liter yang dikumpulkan dari penederes kelapa yang ada disekitar Desa Kranggan dan sekitarnya ditampung dalam disebuah Dream Palstik kemudian disaring dengan alat penyaring yang terbuat dari anyaman bambu yang dinamakan "Kalo" agar kotoran yang ada menjadi bersih lalu dimasukan kedalam Tabung Steinless.

Tahap Kedua ,air nira yang ada di Tabung Steinlles dengan PH 7,5 dimasak dengan menggunakan bahan bakar kayu keras, seperti kayu mahoni,kopi,pornis,dll agar diperoleh suhu panas berkisar 60-75% C dengan waktu 8 jam air nira itu berubah menjadi gula cair matang.dibutuhkan 1,5 m3 kayu bakar.

Tahap Ketiga, memindahkan gula cair yang telah matang kedalam Bak Penampung yang berbahan Stainlless untuk didiamkan selama 12 jam agar diperoleh Gula Jawa Cair Organik yang diinginkan dengan memisahkan endapan yang akan memisah dengan sendirinya didasar Bak Penampung

Setelah dingin Gula Jawa Cair Organik kemudian dipindahkan kedalam botol-botol plastik berukuran 3,3 ons dan 1 kg dengan gayung dan torong plastik kemudian ditutup dan diberi label.bertuliskan Gula Jawa Cair Organik "MAYANG SARI"

Untuk memproduksi Gula Jawa Cair Organik dari tahap persiapan produksi ,pemasakan .sampai dengan menuangkan kedalam botol-botl plastik dibutuhkan tenaga pekerja sebanyak 2 orang.

Uji coba pembuatan Gula Jawa Cair Organik telah dilakukan Siswanto selama 4 bulan ,dengan hasil yang sangat baik dan sukses. Setiap kali produksi menghasilkan Gula Jawa Cair Organik sebanyak 200 kg langsung habis dijual dalam tempo satu hari untuk memenuhi kebutuhan permintaan pembelinya di Desa Kranggan dan sekitarnya.dengan harga kemasan 3,3 1 ,000 dan 1kg=Rp 25,000

Gula Jawa Cair Organik milik Siswanto makin hari makin lama dikenal pengusaha-pengusaha kota -kota besar karena Siswanto yang sehari-harinya dipanggil Waye dalam memasarkan produknya menggunakan media sosial;facebooks.twitter,WA sehingga mulai dikenal masyarakat luas.

Permintaan dari berbagai kalangan baik perseorangan pengusaha ,instansi pemerintah,supermarket membuat kewalahan Siswanto karena beberapa pihak memintanya agar produk Gula Jawa Cair Organik harus mendapatkan surat izin resmi dari Dinas Kesehatan.agar mendapat jaminan keaslian produk Gula Jawa Cair Organik yang bebas dari penggunaan pengawet yang terbuat bahan kimia.serta ramah lingkungan.

Upaya mengajukan surat izin kepada Dinas Kesehatan telah diajukan seminggu yang lalu untuk mendapatkan pengakuan dan legalisasi proudk milknya agar terjaga kualtisnya.sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku aman untuk dikonsumsi dan waktu masa tengganya dapat diketahui.

Sembari menunggu surat izin dari Dinas Kesehatan Kabupaten Banyumas ,Siswanto berharap mendapat bimbingan dan kemudahan dalam mengurus surat izin agar segera memproduksi Gula Jawa Cair Organik sebagai slah satu usaha kecil yang berbasisi kerakyatan yang dapat menopang kebutuhan kehidupan keluargnya serta menyerap potensi ekonomi lokal berbasis pertanian yang menyerap hasil penderes di Desa Kranggan.

Beberapa penguasaha nasional banyak yang datang ke Desa Kranggan menunggu prduksi Gula Jawa Cair Organik milik Siswanto ,bahkan seorang pengusaha dari negara Belgia Mr.Cristhoper datang menemui pemuda desa itu bersedia membantu membuatkan mesin pembuat gula cair yang lebih baik dan canggih.

Penulis: Kang Mul

Editor:

Berita Terkait

Copyright ©2019 Suara Purwokerto. All Rights Reserved

Version: | Build ID: 31aJ0MuO18PZM3MdYoDSu