LINGKAR PURWOKERTO

Wartawan Banyumas Tuntut Bupati Tindak Tegas Pelaku Kekerasan

Aksa, Suara Purwokerto |
Wartawan Banyumas Tuntut Bupati Tindak Tegas Pelaku Kekerasan

Suara Purwokerto - Aksi kekerasan terhadap wrtawan yang tejadi semalam,   disikapi seluruh awak media di Banyumas. Puluhan wartawan siang ini (10/10) meminta bupati menindak tegas oknum Satpol PP yang telah melakukan kekerasan, penyitaan dan tindakan tak terpuji lainnya. 
Ketua PWI Kabupaten Banyumas Sigit  membacakan tuntutan wartawan atas aksi kekerasan. 
1. Mengutuk aksi kekerasan terhadap wartawan yang sedang meliput.
2. Meminta kepada pelaku tindak kekerasan terhadap wartawan untuk diproses sesuai dengan hukum yang berlaku.
3. Meminta kepada Kapolres Banyumas dan Bupati Banyumas, agar bisa mengembalikan sejumlah barang yang hilang dan menganti kerusakan yang ditimbulkan.

Bupati Banyumas Ir Ahmad Husein  berjanji melakukan tindakan secepatnya terhadap mereka yang telah melakukan kekerasan terhadap wartawan. 
Situasi sempat menegang ketika petugas Satpol PP memprovokasi wartawan namun suasana panas ini bisa diredam. 
Ketua Asosiasi Media Digital Indonesia (AMDI) Cabag Banyumas Andy  Ist MERDEKA  mengharapkan aparat keamanan bisa menciptakan suasana kondusif dan jangan justru membuat suasana jadi panas. “Saya memohon polisi tidak gegabah dalam menangani aksi-aksi demo soal proyek listrik tenaga panas bumi, harus bisa meredam situasi jangan membuat panas karena ini mendekati pelaksanaan Pilkada,” kata Andy  Ist 

“Jangan sampai aksi massa yang hari ini akan kembali turun menggelar aksi demo ditunggangi pihak-pihak tertentu untuk memanaskan suasana di kota Purwokerto yang selama ini dikenal sejuk dan masyarakatnya punya sikap toleransi yang tinggi,” kata Andy 

Sebelumnya Agus Wahyudi, wartawan Suara Merdeka yang ikut menjadi korban kekerasan, menuturkan peristiwa kekerasan terjadi saat dia bersama tiga wartawan lain meliput pembubaran paksa aksi demo yang dilakukan sekelompok mahasiswa terkait proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTPB) Baturraden.

“Saat itu, ratusan petugas polisi langsung menyerbu lokasi demo dan membongkar tenda-tenda yang didirikan pengunjuk rasa. Wartawan yang melihat kejadian ini berusaha mengabadikan dengan kameranya. Namun tindakan wartawan wartawan ini langsung dihadang dengan tindakan kekerasan,” jelasnya.


Dian Aprilia (fotografer Suara Merdeka) dan Darbe Tyas (wartawan Metro TV) yang berada di paling dekat dengan lokasi, langsung didatangi puluhan petugas. Mereka mengepung wartawan dan memaksa agar seluruh telepon genggam atau kamera yang berisi gambar aksi kekerasan petugas tersebut dihapus.

“Saat itu, saya bersama wartawan Satelit Pos Aulia El Hakim, wartawan Radar Banyumas Maulidin Wahyu dan fotografer Suara Merdeka Dian Aprilia. Pada kami, puluhan aparat memaksa semua foto-foto dihapus dan kalau tidak HP akan dibanting,” jelas Agus.

Sementara Darbe Tyas yang saat itu berada di lokasi agak jauh, juga didatangi puluhan petugas. Agus melihat Darbe sempat diarak puluhan petugas ke halaman Setda, kemudian dipukuli petugas di lokasi tersebut hingga terjatuh. Bukan itu saja, petugas juga sempat menginjak-injak tubuhnya. “Saat itu, Darbe sudah berteriak dia wartawan sambil menunjukkan id cardnya. Tapi petugas tidak peduli,” katanya.

Petugas baru meninggalkan korbannya, setelah Darbe tidak berdaya dan menghapus seluruh rekaman gambar dalam kameranya. “Yang menolong Darbe, kami sesama wartawan. Petugas yang menganiayanya, meninggalkan Darbe begitu saja,” kata Agus.

Tindakan brutal oknum aparat tersebut, selain menyebabkan luka di sejumlah tubuh, kacamata Darbe dan id card-nya pun hilang. “Kami langsung membawa Darbe ke Rumah Sakit DKT Wijaya Kusuma karena kesakitan,” jelas Agus. 
Editor: