Profil

Kalajengking dan Kisah KHM Sami'un, "Guru Santri" Parakan Onje

Minggu, 3 Maret 2024 12.23

Suara Purwokerto
Masjid Jami’ An-Ni’mah Parakan Onje, pusat aktivitas Pesantrean Ath-Thohiriyyah, dulunya tak semegah sekarang. Pada mulanya, bangunan masjid dirintis almaghfurlah KHM Sami’un alias Kiai Abdussami’. 

Sosok yang dikenal sebagai Guru Santri ini berasal dari Kauman (Yosodarmo), yang kemudian hijrah ke Parakan Onje. Beliau adalah putera Kiai Muhammad Maksum, seorang Lurah Katib di Purwokerto semasa penjajahan Belanda. Muhammad Sami'un, demikian nama yang diberikan sang ayah untuk anak ke-8 dari sembilan bersaudara.

Dari jalur ibu, Muhammad Sami'un adalah generasi ketiga dari Kiai Mardan Ajibarang. Adapun Kiai Mardan memiliki empat orang anak, yakni Kiai Chasan Muhammad (Katib Sepuh Purwokerto), Nyai Purwanom (Ciberung), Kiai Muhammad Raji (Katib Ajibarang), dan Kiai Chasan Muhammad (Desa Seprih Purbalingga).

Sami’un remaja mengenyam pendidikan formal di bangku HIS dan MULO. Pengetahuan agama diperolehnya dari Kiai Imam Tabri. Setamat MULO, Sami’un muda bekerja pada Pemerintah Belanda, menangani proyek pembangunan rel kereta api Purwokerto-Jakarta.

Saat tinggal di Jakarta, saat memberesi tempat tidur, ia dikejutkan oleh seekor kalajengking yang muncul dari balik kasur. Sejak itu, bayangan siksa kubur bergelayut di benaknya. Pengalaman rohani ini membuatnya berkeputusan untuk berhenti kerja, kemudian mendalami ilmu agama.

Berbekal tabungan hasil kerja, beliau menjalani kehidupan baru sebagai santri. Pertama yang dituju adalah Pesantren Lirap (Kebumen) untuk berguru pada Kiai Ibrahim (1911-1913). Kitab Jurumiyah, Imriti dan Alfiyah dihafalnya dalam tempo tiga bulan.

Selepas dari Lirap, melanjutkan ke Pesantren Termas untuk berguru pada KH Dimyati (1914-1924). Semasa di Termas, secara temporer mengaji kitab Al-Ihya Ulumaddin pada KH Abdullah bin Abdul Muthalib di Kaliwungu Kendal.

Pergi haji ke Tanah Suci merupakan cita-citanya semenjak nyantri. Niat bekerja di Serawak adalah batu loncatan untuk menuju Mekkah.

Singkat kisah, ia memperoleh pekerjaan sebagai juru bahasa bagi kapal yang masuk ke Serawak. Dari tes seleksi, beliau diterima bekerja dengan syarat sudah menikah. Tak mau menyia-nyiakan kesempatan, beliau segera pulang ke Tanah Air dan menikahi Nyai Sartinah. Lalu, diboyonglah sang isteri ke Serawak.

Lima tahun lamanya pasangan ini tinggal di Serawak (1925-1930). Tahun 1929 lahirlah anak pertama yang diberi nama Abu Chamid (Pengasuh Pesantren Al-Ikhsan Beji, Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten Banyumas). Saat mengandung putera kedua, Nyai Sartinah mendesak sang suami pulang ke Tanah Air. Sejak 1930 Kiai Sami’un beserta keluarga kembali ke Purwokerto, berdakwah sebagai “Guru Santri” di Sokanegara.

Sepuluh tahun Kiai Sami’un tinggal di Sokanegara, sebelum akhirnya hijrah ke Parakan Onje hingga akhir hayat. Dari isteri pertama Nyai Sartinah, beliau dikaruniai empat orang anak, yakni KH Abu Chamid, H Machmud, HA Munir, dan Siti Munawaroh. Sedangkan isteri kedua Nyai Fatimah menurunkan dua anak, yaitu Hj Muhdiyah Azizah dan Hj Mughniyah.

KHM Sami’un dikenal sebagai mursyid tarekat Syadziliyyah, ijazah wirid diperolehnya dari KH Abdullah bin Abdul Muthalib Kaliwungu (Kendal). Penerus tarekat beliau ada KH Zaid Abu Mansyur Lesmana dan KH Abu Chamid Beji. Selain menguasai ilmu agama, KHM Sami’un juga fasih berbahasa Belanda-Inggris-Arab. Meski begitu, almarhum lebih sreg mengajar santri dengan Bahasa Jawa. Bahkan, beberapa karya almarhum ditulis dalam bahasa Arab-Jawa, seperti Lubabuz Zaad, ‘Aqoid 50, Terjemah Yasin, dan Terjemah Doa Salat.

Kisah Karamah
Jika mau menelisik kisah ulama Banyumas tempo dulu, ternyata mereka punya karamah masing-masing. Demikinan halnya dengan KHM Sami’un. Meski telah berpulang ke hadirat Allah 42 tahun silam, karamah beliau masih tersua.

Sekadar contoh, apa yang terjadi pada tanggal 17 Agustus 2010. Malam itu di kediaman KH Thoha, salah seorang cucu menantu KHM Sami’un, sedang rapat pembentukan Panitia Pembangunan Masjid An-Ni’mah Parakan Onje. Rumah KH Thoha berada di sebelah selatan masjid. Di saat bersamaan, seorang “tamu asing” berkunjung ke rumah Hj Muhdiyah binti KHM Sami’un, rumahnya di sebelah timur masjid.

Tamu itu bertutur, “Pagi tadi saya berkenalan dengan Kiai Sami’un. Sekarang saya kemari untuk bersilaturahmi. Apakah beliau ada di rumah?”

Saat itu sang tamu ditemui Ustazah Wiwin Nafisah, juga cucu menantu KHM Sami’un.

“Mbah Sami’un itu sudah lama meninggal dunia,” kata Ustazah Wiwin.

Tamu tersebut tertegun untuk beberapa saat sebelum akhirnya momon diri. Sayangnya, Ustazah Wiwin tidak sempat menanyakan alamat si tamu.

Kisah lain seperti diceritakan K Nasruddin, salah satu murid KHM Sami’un. Ceritanya, suatu hari KH Syakur dan KH Abdul Malik (Kedungparuk) mengunjungi Kiai Sami’un di Parakan Onje.

“Saya yang membuatkan teh untuk kedua tamu,” kata K Nasruddin.

Setelah itu, ia kembali ke dapur. Kiai Sami’un menanyakan suguhan untuk tamu. “Tidak ada apa-apa, Mbah” jawab K Nasrudin.

“Sana ambil di lemari Munir,” titah Kiai Sami’un.

Dengan sedikit ragu K Nasruddin menuruti perintah sang guru. Setahu dirinya, lemari itu adalah tempat alat-alat perbengkelan. “Saya pelan-pelan membuka lemari Mas Munir, saya taperperanjat, di sana ada sesisir pisang kuning mengkilap. Segera saya ambil untuk suguhan kedua tamu,” kata K Nasruddin.

Kejadian lain, masih menurut K Nasruddin, pernah dialami M Nartam yang keseharian membantu di rumah kiai. “Suatu kali hendak ke kolam, saya melihat kedua lutut Kiai Sami’un memancarkan cahaya,” katanya.

Alm Ustaz Juweni, salah satu murid KHM Sami’un, punya kesaksian tersendiri. Suatu ketika terjadi hujan-petir, KHM Sami’un keluar rumah menuju masjid untuk salat. Beliau berucap keras (wa antuhayyi-a asrorona liqobuli minka ya rohmaan) sambil berkelebat ke masjid yang jaraknya belasan meter. “Anehnya, saya mendapati beliau tidak basah meski menerobos hujan,” kata Ustaz Juweni.

Perlu dicatat, dalam kehidupan nabi dan rasul dijumpai kejadian-kejadian luar biasa (baca: mukjizat) yang muncul saat kondisi darurat. Jika tersua sebelum masa kenabian, ia disebut irhash. Adapun keajaiban yang terjadi pada wali Allah disebut karamah; dan, dinamakan ma’unah manakalan terjadi pada orang mukmin. Wallahu a’lam. []

*) Akhmad Saefudin SS ME, Penulis Buku 70 Ulama Banyumas Raya

Penulis: Akhmad Saefudin

Editor:

Berita Terkait

Copyright ©2024 Suara Purwokerto. All Rights Reserved

Version: 1.23.3 | Build ID: FHBRa1vRFd-dgFqX1RoWX