Lingkar Banyumas

Menjelang Hari Jadi ke 448 Kabupaten Banyumas Diruwat

Kamis, 07 Februari 2019 20:25 WIB

Menjelang Hari Jadi ke 448 Kabupaten Banyumas Diruwat

Suara Purwokerto - Pada tanggal 22 Februari 2019, Kabupaten Banyumas memperingati hari jadinya yang ke 448. Berbagai kegiatan digelar antara lain Ziarah ke Makam Bupati Pertama R Djoko Kahiman, Tasyakuran dan juga ruwatan. “Ruwatan" yang berlangsung di Pendopo Duplikat Sipanji Banyumas digelar Kami2 (7/2/2019) bertujuan untuk memohon keselamatan dan kelapangan rezeki kepada Tuhan Yang Mahaesa bagi seluruh masyarakat Kabupaten Banyumas. 
Kegiatan ini diawali dengan penyerahan tokoh wayang dari Bupati Banyumas Ir Achmad Husein kepada Ki Dalang Hadi Warsono. Ruwat adalah tradisi ritual yang bertujuan menghindarkan diri dari malapetaka. Ki Hadi Warono menancapkan wayang gunungan di tengah pakeliran untuk memulai pertunjukan. Dengan suluk-suluk yang berisi doa, Ki Dalang itu membuka ritual ruwatan. 
Terkait "ruwatan" tersebut, Sekretaris Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata (Dinporabudpar) Kabupaten Banyumas Suwondo mengatakan, kegiatan tersebut merupakan agenda tahunan dalam rangkaian Peringatan Hari Jadi Kabupaten Banyumas. 
"Ruwatan ini ditujukan untuk memohon keselamatan dan kelapangan rezeki kepada Tuhan Yang Mahaesa bagi seluruh masyarakat Banyumas," katanya. 
Menurut dia, kegiatan ini juga dapat disebut sebagai "ruwatan bumi" yakni untuk memohon kesuburan tanah pertanian kepada Tuhan Yang Maha Esa. Terkait lokasi yang digunakan untuk "ruwatan", Suwondo mengatakan, awal Pemerintahan Kabupaten Banyumas berpusat dari Pendopo Duplikat Sipanji Banyumas yang selanjutnya dipindahkan ke Purwokerto sekitar tahun 1937-an. 
"Dulu pusat pemerintahan Kabupaten Banyumas ada di sini. Namun karena adanya banjir besar, pusat pemerintahan dipindahkan ke Purwokerto termasuk empat tiang utama penyangga Pendopo Sipanji," katanya.
Berbeda dengan wayang kulit biasa yang digelar untuk hiburan, wayang ruwatan yang lekat dengan mistisme Jawa lebih bersifat ritual sehingga tidak bisa dimainkan oleh sembarang dalang. Selain punya jam terbang, dalang peruwat wajib menjalani laku spiritual sebelum pentas–seperti puasa dan doa–karena ia merupakan tokoh sentral dan bertanggung jawab atas prosesi ruwatan.

Penulis: Parsito

Editor: Andy Ist Merdeka

Berita Terkait

Kamis, 14 Februari 2019 08:53 WIB

Bupati Banyumas : Idialisme Adalah Roh Wartawan

Senin, 11 Februari 2019 16:06 WIB

Menteri Puan Maharani Melepas Prosesi Boyongan Saka Sipanji

Senin, 11 Februari 2019 16:01 WIB

Puan dan Ganjar Cuci Muka dan Minum Air Sumur Mas

Sabtu, 09 Februari 2019 22:31 WIB

Menteri Puan Maharani, Serahkan Bansos di Banyumas

Copyright ©2019 Suara Purwokerto. All Rights Reserved