LINGKAR BANYUMAS

Rombongan Guru Asal Lumbir, Kecelakaan di Tol Cipali

Parsito, Suara Purwokerto |
Rombongan Guru Asal Lumbir, Kecelakaan di Tol Cipali

Rombongan Guru Asal Lumbir, Kecelakaan di Tol Cipali

Suara Purwokerto - Rombongan guru dan pensiunan guru asal Kecamatan Lumbir Kabupaten Banyumas, mengalami kecelakaan di Tol Cipali Jawa Barat.  Sebanyak tiga bus, rencananya akan menuju ke Jakarta dan Kepulauan Seribu untuk berwisata. 
Namun naas salah satu bus yang ditumpangi mengalami kecelakaan pada Sabtu ( 7/7) dinihari. Dalam kecelakaan ini satu orang meninggal dunia, atas nama Sri Sukesih warga Desa Lumbir Kecamtan Lumbir. 
Salah satu keluarga rombongan guru bernama Kasno Susilo mengatakan, rombongan guru ini berangkat dari Lumbir Jumat (6/7) malam sekitar pukul 19.00 WIB. Kemudian Sabtu sekitar pukul 02.30  WIB dirinya mendapatkan telepon dari adiknya bernama Deden yang ikut dalam rombongan yang berwisata ini, bahwa salah satu bus yakni bus 1 mengalami kecelakaan pada pukul 02.00 WIB . 
Sebelumnya bus 1 ini akan mendehalui kendaraan yang ada di depanya melalui jalur kiri. Namun bersamaan terdapat dump truk, sehingga bus pada sisi kiri menabrak truk tersebut. 
Mengakibatkan penumpang dibagian depan mengalami  luka- luka sebanyak 20 dan satu orang meninggal dunia. Dari keterangan Kasono, korban luka- luka ini saat berada di salah rumah sakit yang ada di wilayah Cirebon. 
“Jadi kata adik saya, bus ini menabrak truk yang bermuatan pasir di Tol Cipali. Yang paling parah korban yang duduk di sebelah kiri, termasuk diantaranya teman akrab saya Pak Sri dan Bu Sri. Yang Bu Srinya meninggal dunia, Pak Srinya luka amat parah,”kata Kasno yang rumanya tepat di depan rumah Sri Sukesih.
Sementara itu, masih ada lima orang yang mengalami luka parah yakni Sri Bambang  Sunarko, Inti Lestari, Sri Mulyono dan Udin (Crew Bus). Untuk jenazah Sri, akan dimakamkan di Sleman Yogyakarta. 
Karena salah satu bus mengalami kecelakaan, rombongan bus lainya, pulang balik menuju ke Lumbir. Mereka memutuskan tidak jadi berwisata ke Jakarta.
Editor: Andy Ist Merdeka