LINGKAR BANYUMAS

Tradisi Jaro Rajab Di Cikakak Wangon

Parsito, Suara Purwokerto |
Tradisi Jaro Rajab Di Cikakak Wangon

Jaro Rojab merupakan kegiatan mengganti pagar bambu yang mengelililingi komplek makam Kyai Toleh dan Masjid Saka Tunggal

Suara Purwokerto - Masyarakat Desa Cikakak Kecamatan Wangon masih menjaga tradisi Nenek Moyangnya. Mereka mempertahankan tradisi berupa Tradisi Jaro Rojab Jumat (13/4) lalu. Jaro Rojab merupakan kegiatan mengganti pagar bambu yang mengelililingi komplek makam Kyai Toleh dan Masjid Saka Tunggal.

Kepala Desa Cikakak Suyitno mengatakan, kegiatan tradisi Jaro Rajab dimulai sejak pukul 06.00 sampai 11.00. Jaro Rojab merupakan ritual mengganti pagar bambu keliling masjid saka tunggal setiap setahun sekali yaitu pada tanggal 26 Rajab. Ritual ini diikuti oleh seluruh warga desa Cikakak dan sekitarnya.

“Dalam ritual yang mereka sebut ganti Jaro Rajapine,” katanya

Suyitno menambahkan saat membuat pagar, ada beberapa pantangan yang harus ditaati. Mereka dilarang berbicara dengan suara keras serta tidak boleh menggunakan alas kaki. Sehingga yang terdengar hanya pagar bambu yang dipukul

“Penggantian pagar bambu atau jaro disekitar masjid Saka Tunggal sudah berlangsung turun temurun dan mempunyai bermakna kebersamaan dan gotong royong, tradisi ganti Jaro Rajab ini bagi warga di sini dipercaya bisa menghilangkan sifat jahat dari diri manusia,” tambahnya 

Kepala Bidang Kebudayaan Kabupaten Banyumas Deskart S. Djatmiko, M.Si mengatakan Jaro Rojab sebagai ajang berkumpulnya keluarga atau simpatisan, merupakan suatu bagian dari budaya yang diharapkan akan menjadi satu centre of interest baru di titik pertumbuhan budaya dan wisata yang ada di daerah Wangon dan Ajibarang.

“Dengan kegiatan ini akan terjalin keterikatan batin antara para pendahulunya dengan mereka tetap terjaga, dan dalam bahasa Jawa istilah Ngalap Berkah yaitu diharapkan mendapatkan berkah dari perbuatan baik mereka setelah mengganti Jaro atau pagar makam yang terbuat dari bambu,” terang Jatmiko 

Parsito

Editor: Andy Ist Merdeka